Translate

Showing posts with label Psikoanalisis. Show all posts
Showing posts with label Psikoanalisis. Show all posts

May 14, 2013

TELEKINESIS; Amarah Yang Dapat Menghancurkan


LOOPER… Film ini rilis menjelang akhir 2012 lalu dan baru kemarin berkesempatan menonton filmnya itu pun hasil copas dari koleksi film teman saya, thank you masbro J its really a great movie..
Pada awalnya saya langsung berguman uhh… cerita time travel lagi deh, alur maju mundur lagi… durasi 30 menit pertama agak monoton, berat dan kompleks, seperti biasa saya mulai bosan dan belum bisa menemukan inti film ini.. Hingga pada medio film ini saya mulai tertarik dan amat sangat penasaran ketika sosok demi sosok muncul saling memburu dan tujuannya sama untuk menemukan dan membunuh seorang anak kecil yang memiliki kekuatan super Telekinesis (TK). That is the point… Saya selalu jatuh cinta pada hal hal yang berkaitan dengan para psike J

Sedikit resensinya:
Looper menceritakan  kehidupan seorang pembunuh bayaran ‘Joseph Simmons’ (Joseph Gordon-Levitt) yang bekerja untuk organisasi mafia di tahun 2044. Yang menarik, target-target pembunuhannya didatangkan dari masa depan. Para pembunuh bayaran (Looper)  itu harus memastikan targetnya tidak lepas dan menghilangkan jejak mayat targetnya. Nah, apabila ingin memutuskan kontrak dengan si Looper tsb maka yang di datangkan untuk dibunuh adalah versi tua dari looper itu sendiri, hum..

Tugas ini pun akan menjadi sulit ketika ia mengenali target barunya sebagai dirinya sendiri dari masa depan. Keraguan Joseph untuk bertindak memberikan jalan bagi targetnya yang diperankan oleh Bruce Willis untuk melarikan diri.. Dan kehadiran Joe tua sendiri untuk sebuah misi mengubah takdirnya, melindungi wanita yang dicintainya di masa depan dengan mencari seorang bocah RAINMAKER yang ditakdirkan akan menjadi penjahat yang akan menguasai seluruh organisasi mafia dan akan menghabisi semua LOOPER di masa depan…

Woww…. very complicated,  sudah mulai bingung bukan? Terbanyang bagaimana film ini menguras energy berpikir kita, memutar otak untuk mencerna potongan2 adegan menjadi kesatuan kompleks untuk menemukan simpul jantung dan inti dari film ini..

Tapi bukan itu yang menarik bagi saya, justru kehadiran si bocah bernama Cid berjuluk RAINMAKER ini yang membuat saya semangat.. Bocah dengan kekuatan telekinesis super duper tinggi, bukan hanya menggerakkan benda tapi mampu menghancurkan apa saja disekelilingnya .. Percayakah anda akan kekuatan ini?

September 24, 2012

Self Defense Mechanism


…Tiba tiba berprilaku narsis, kepribadian ganda, penolakan terhadap kebenaran, berbohong untuk kebaikan, benci terhadap mantan, marah sebelum dimarahi, memaksakan humor saat terdesak, memukul pintu sampai jebol, berteriak-teriak dalam status Facebook berisi sumpah serapah…

Mungkin anda pernah mengalami hal hal tersebut, sadarkah anda apa yang anda perbuat itu adalah suatu mekanisme pertahanan diri atau dikenal sebgai self defense mechanism dalam psikologi.

Self Defence Mechanism ini merupakan sebuah disiplin dalam ilmu psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Tidak mesti seorang psikolog, Anda pun bisa mempelajari ini untuk memahami perilaku orang-orang di sekitar anda dan mencoba berempati saat mereka terpaksa melakukan ini.

Self Defence Mechanism sebagai  Alat Pelindung Psikis

Dalam ilmu psikologi Self Defence Mechanism merupakan proses mental dari pembohongan-diri untuk mengurangi pikiran yang mencemaskan, kenangan buruk atau keadaan yang mengancam ego seseorang.

Perasaan khawatir adalah insting normal terhadap adanya ancaman. Adrenalin meningkat, perasaan selalu siap siaga dan jantung yang berdebar sebenarnya insting untuk mempertahankan diri untuk survive. Namun kekhawatiran yang berkepanjangan akan menyebabkan tubuh lelah, meningkat menjadi cemas dan dapat menimbulkan stress. Dan stress ini pada akhirnya akan memicu munculnya penyakit psikosomatis.

July 3, 2012

Ketika Raga di Huni 24 Jiwa

24 Wajah Billy merupakan sebuah kisah nyata seorang William Stanley Miligan yang lebih dikenal dengan nama Billy yang ditulis oleh Daniel Keyes. Menarik untuk dikupas, tentang seseorang dengan mentality disorder seperti Kepribadian Ganda atau mungkin pernah anda mendengar tentang Alter Ego. Ini sebuah novel yang menarik, menggugah kita untuk terus membaca, mengkaji makna yang tersaji dari seorang yang terpecah kpribadiannya dan memunculkan kepribadian yang lain yang ia lakoni.

Apa yang menarik dari novel ini? Mungkin karena saya memang tertarik mengamati pola tingkah laku manusia, bagaimana reaksi seseorang dalam bereaksi terhadap apa yang terjadi dalam dirinya. Dan memang, kepribadian ganda itu sangat menarik sekaligus membingungkan.

Percayakah anda bahwa dalam dunia ini ada kasus yang menyangkut ruang lingkup psikologi yang menitikberatkan pada multi kepribadian? Laki-laki kelahiran 1955 ini menghabiskan hidupnya untuk berbagi tempat dengan 23 orang lainnya dalam tubuhnya. Mereka tentu saja memiliki kepribadian yang berbeda. Mereka pun sangat ahli dalam beberapa bidang.

Artur berkebangsaan Inggris yang pintar dalam biologi dan kedokteran, namun memiliki pembawaan angkuh. Regan dari Yugoslavia yang memiliki kekuatan luar biasa untuk melindungi semua “keluarga”. Allen, si pandai bicara dan pelukis wajah. Tommy yang pintar dalam segala elektronik dan mampu melepaskan diri dari segala macam kunci dan ikatan simpul. Danny, si anak penakut. David, si penanggung nyeri. Christine gadis cilik yang berusia 3 tahun. Chistopher yang penurut. Adalana, si wanita lesbian. Philip dan Kevin, dua anak yang kerap membuat masalah. Walter, si pemburu binatang. April yang terobsebsi membunuh ayah tiri Billy. Samuel beragama Yahudi. Mark yang hanya seperti zombie. Steve, si peniru gelagat orang yang akhirnya menjadi si pemarah. Lee yang suka sekali mengolok-olok orang. Jason yang kerap teriak-teriak. Robert yang senang mengkhayal. Swan, si tunarungu. Timothy yang bekerja di toko bunga. Dan, terakhir adalah Sang Guru yang akhirnya datang setelah Billy menyadari tubuhnya didiami banyak orang.

July 12, 2011

The Butterfly Effect (Mungkinkah Mengubah Takdir)


Semalam, termenung sendiri dalam kamar saya berpikir apa yang dapat saya lakukan melewati malam ini, iseng saya mengambil external disk yang sudah lama mendekam dalam laci meja, niatnya sih buat merapikan membuang file2 yang sudah lama.
Ketika memulai memilah milih, terutama koleksi film di bawah tahun 2005 saya delete satu persatu. Saya tertegun ketika hendak menghapus sebuah film bergenre fiction. Lama saya tatap dalam dalam judulnya, jujur ini adalah film paling rumit yang pernah saya nonton sekaligus film terbaik menurut saya, karena pertama kali saya menonton film ini, saya dibuat kebingungan untuk mengerti jalan ceritanya.

“The Butterfly Effect” inilah film yang saya maksud, sebuah film yang di bintangi dan di produseri sendiri oleh Aston Kutcher. Film ini cukup sederhana, tanpa dramatisasi visual.
Berikut sedikit kutipan dari film ini; ...Bertemu kembali dengan Kayleigh, teman masa kecilnya yang begitu ia cintai yang memiliki kehidupan yang sangat suram dan berantakan, Evan bermaksud untuk merubah takdir kehidupan sang gadis pujaannya tersebut. Evan yang dianugerahi kemampuan untuk mampu kembali ke masa lalu dan melakukan berbagai hal yang pada akhirnya akan merubah takdir masa depan orang-orang yang terlibat pada kehidupannya itu. Sukses untuk kembali ke masa lalu (masa kanak-kanaknya) dan merubah masa lalu Kayleigh yang menjadi biang kehancuran masa depannya, lalu Evan kembali lagi ke masa depan hidupnya, dimana ia terkejut dengan perubahan yang terjadi. Evan dan Kayleigh menjadi sejoli mahasiswa yang borjuis dan berbahagia, tentunya Evan senang, namun tidak hingga ia melihat realita kehidupan kampus yang sesungguhnya, dimana ia kehilangan teman-teman dan lingkungan yang (pada kehidupan sebelumnya) begitu respek padanya. Evan galau, karena ternyata takdir tidak bisa begitu saja ia pilih dan ia rancang...

Bukan cerita dari film ini yang akan saya ceritakan tetapi kepada judul film ini sendiri yang sarat akan makna merupakan istilah untuk sebuah teori ilmiah yang menjadi latar dan pesan utama dari film ini, sebuah teori yang dikenal dengan “Teori Chaos”.

Dari wikipedia dijelaskan bahwa; Butterfly effect ( Efek Kupu-kupu ) ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. 


Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal dua maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.


Teori Chaos adalah teori yang berkenaan dengan sistem yang tidak teratur seperti awan, pohon, garis pantai, ombak dll : random, tidak teratur dan anarkis. Namun bila dilakukan pembagian (fraksi) atas bagian-bagian yang kecil, maka sistem yang besar yang tidak teratur ini didapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang teratur. Secara statistik: Chaos adalah kelakuan stokastik dari sistem yang deterministik. Sistem yang deterministik (sederhana, satu solusi) bila ditumpuk-tumpuk akan menjadi sistem yang stokastik (rumit, solusi banyak).


Sejarah teori Butterfly Effect
Edward Norton Lorenz menemukan efek kupu-kupu atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di Amerika Serikat dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. 

Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (...,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali.

Butterfly Effect dan De Javu
Lantas bagaimanakah kaitannya fenomena ilmiah ini dengan de javu? Dalam film Butterfly Effect, akhir dari cerita film tersebut menampilkan scene dimana Evan (Aston Kutcher) dan Kayleigh berpapasan di tengah jalan, dimana Evan sangat mengetahui bahwa perempuan yang ia lihatnya itu ialah Kayleigh, gadis teman kecilnya, yang hidup sebagai akibat dari metamorfosa takdir yang ia ciptakan, sedangkan Kayleigh hanya menatap tipis dan tertegun seraya meyakini itu hanya sebuah de javu. Adakah korelasinya?

April 11, 2011

Mewujudkan Diri Terdalam

Shadow

Tahap pertama dalam mewujudkan diri terdalam adalah menemui shadow. Shadow berarti bayangan dan bila kita melihat bayangan warnanya pasti gelap dan tidak jelas. 

Shadow ini adalah sisi gelap dari psike kita yang sering kali disembunyikan atau dihambat perkembangannya. Shadow adalah sisi kepribadia kita yang negative dan sering kali ditolak dalam kepribadian kita.

Shadow sering dianggap membahayakan ego. Dalam mimpi, shadow muncul dalam tokoh “jahat” yang sejenis kelamin dengan orang yang bermimpi, seperti sauara perempuan atau laki-laki, teman akrab, atau orang yang asing buat kita. 

Penting untuk diingat bahwa shadow memang ngatif, tetapi ia adalah bagian dari kepribadian kita entah ditolak atau diterima.


Anima dan Animus

Tahap kedua dalam mnemukan diri adalah menemui anima dan animus. Dalam bahasa latin akhiran “-a” digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin feminim dan akhiran “-us” digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin maskulin. Akhiran itu berlaku juga untuk anima dan animus. 

Anima adalah jiwa perempuan yang ada dalam pada seorang pria dan animus adalah jiwa laki-laki yang ada dalam seorang perempuan. Jadi, sifatnya adalah kontraseksual. 

Dalam masyarakat, kita sering kali mendengar cirri-ciri yang dilekatkan pada seorang wanita maupun pria. Anima bercirikan lemah lembut, manja, sabar, penyayang, menerima, dekat dengan alam, atau mudah memaafkan; sementara animus bercirikan tegas, senang mengontrol, argumentative, bertanggung jawab, atau memiliki semangat juang.

Anima dan animus ini juga mendiami ketidaksadaran kolektif kita. Setiap laki-lakimempunyai komponen feminism dan setiap perempuan mempunyai komponen maskulin. 

February 22, 2011

Ketidaksadaran Kolektif

Beberapa bulan yang lalu saya pernah mereview mengenai ketidak sadaran personl, Nah pada level yang lebih dalam dari ketidaksadaran personal terdapat ketidaksadaran kolektif atau ketidaksadaran yang dimiliki bersama semua manusia.Ketidaksadaran ini ada pada setiap orang, dibawa sejak lahir, diwarisi dari leluhur kita.

Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Baik tubuh maupun jiwa punya sejarah. Sperma dan ovum yang bertemu membuat kita menjadi organism  yang memiliki tubuh. Dalam tubuh kita berkembang macam-macam organ. Organ-organ itu adalah hasil dari perkembangan sejarah manusia. 

Begitupun dengan jiwa, manusia tidak lahir sebagai individu yang kosong atau tabula rasa (papan putih).  Dalam ketidaksadaran kolektif, tersimpan ingatan-ingatan dan warisan leluhur yang kita bawa sejak lahir.

Didalam ketidaksadaran kolektif, ada arketipe*. Arketipe ini bisa dijumpai dalam setiap budaya di masa lalu, sekarang, dan akan datang. Singkat kata, arketipe itu abadi dalam kehidupan seluruh manusia. Arketipe menjadi kekuatan psikis yang paling dasar dalam kepribadian manusia.

Arketipe sering kali muncul dalam mitos, cerita rakyat, atau mimpi. Suku-suku di Amerika, India, Afrika, atau Asia punya mitos atau cerita rakyat. Di Indonesia, khususnya di Jawa, ada mitos yang ditampilkan dalam cerita wayang yang di dalamnya ditemui banyak tokoh dengan beragam karakter. Kisah-kisah pewayangan tidak bisa dimengerti secara harfiah, tetapi secara simbolis.

Seperti yang terjadi pada ketidaksadaran personal, isi ketidaksadaran kolektif kita juga bisa keluar lewat mimpi. Mimpi yang berisi arketipe disebut mimpi  arketipal. Untuk bisa menerjemahkannya, kita perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang symbol.

Arketipe bisa tampil dalam beragam symbol, namun makna yang di bawanya tetap sama. Ini bisa diibaratkan dengan berbagai jenis pohon yang menarik makanan dari bumi yang sama. Begitu juga jiwa kita, ada bermacam-macam orang dan budaya. Ada lima arketipe yang sangat umum ditemui, yaitu persona, bayangan (shadow), anima-animus, kepribadian mana, dan self.



*Istilah “arketipe” berasal dari bahasa Yunani, arkhè  yang berarti permulaan/awal dan topus yang berarti model/cetak biru. Karena itu arketipe bisa diartikan sebagai model awal/cetak biru  yang menjadi pola dasar terbentuknya model-model lain. Cetak biru kepribadian kita adalah arketipe. Jung sampai pada kesimpulan ini setelah melihat pola-pola dasar yang mirip dalam banyak kebudayaan, mitos, legenda, dan cerita rakyat.


Untuk penjelasan kelima jenis arketipe tersebut akan diuraikan pada postingan selanjutnya.

December 15, 2010

Ketidaksadaran Personal

Setelah sebelumnya saya menuliskan tentang kesadaran, sekarang kita akan masuk setingkat lebih dalam dari kesadaran itu, yaitu ketidaksadaran. Ketidaksadaran sendiri dibagi menjadi dua lapisan yaitu, ketidaksadaran personal dan ketidaksadaran kolektif. Nah, saya akan menguraikannya satu persatu.

Ketidaksadaran Personal

Pada level lebih dalam dari kesadaran, ada ketidaksadaran personal. Ketidaksadaran ini bersifat relative. Artinya isi ketidaksadaran personal kadang-kadang disadari, kadang-kadang juga tidak. Seseorang mungkin sadar bahwa ucapannya tidak memperhatikan perasaan orang lain, tetapi dilain waktu ia tidak sadar  melakukannya lagi. Jadi, isi ketidaksadaran personal masih bisa menjalin kontak dengan kesadaran.

Dalam ketidaksadaran personal ini, ada banyak kompleks. Kompleks disini berarti sekumpulan perasaan, pikiran, dan persepsi yang berhubungan dengan suasana emosial tertentu. Kita kadang-kadang menemukan diri kita  atau orang lain menjadi sangat sensitive dengan kata atau ucapan tertentu. Inilah yang disebut kompleks. Kompleks ini seringkali bersumber dari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu.

Dalam praktiknya, Jung mengidentifikasikan kompleks ini dengan stimulus berupa kata (word association). Bila terapis, misalnya, mengucapkan kata “ibu” kepada kliennya dan klien  member isyarat dan respon tidak nyaman, maka kata itu menampilkan kompleksnya. Bisa terjadi bahwa klien memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan ibu yang direpresi dalam ketidaksadaran personalnya.

Kompleks bisa juga keluar lewat mimpi. Orang pada umumnya menganggap mimpi sebagai bunga tidur. Dalam bahasa Jerman ad ungkapan “Träume sind Schäume” (mimpi adalah buih tidur). Jung menolak anggapan seperti itu. Mimpi membawa pesan-pesan penting dari ketidaksadaran kita.  Dapat terjadi bahwa seseorang bermimpi bahwa ibunya ingin membunuh dia. Padahal dalam kenyataan, sang ibu sangat mencintainya. Mimpi seperti itu bisa mengatakan tentang konflik dengan ibu jauh di masa lalu yang belum terselesaikan. Karena pentingnya mimpi ini, Jung sering bertanya kepada kliennya, “ Anda punya mimpi yang bisa diceritakan?”

See you next time untuk penjelasan tentang ketidaksadaran kolektif…

December 13, 2010

Kesadaran

Lapisan terluar dari psike adalah kesadaran. Lapisan ini hanyalah kulit atau permukaan psike. Meski demikian, kesadaran sangat penting untuk berelasi dengan dunia luar. Karena pergerakannya keluar, kesadaran sebagian besar adalah hasil sensasi (penginderaan) dan persepsi (pemaknaan atas hasil sensasi).

Kesadaran berpusat pada ego. Ego inilah yang membuat kita sadar akan tubuh dan lingkungan sekitar kita. Disinilah seluruh informasi yang direkam dari dunia luar tersimpan. Jung mengibaratkan ego ini sebagai magnet yang bias menarik segala kejadian di lingkungan sekitar.

Selanjutnya, Jung membagi kesadaran menjadi 2 lapisan, yaitu lapisan ektopsikis dan lapisan endopsikis. Lapisan ektopsikis berisi data-data yang di dapatkan dari lingkungan atau dunia luar. Lapisan ini terdiri dari 4 fungsi:


1.       Penginderaan (sensation)
Fungsi ini mengatakan kepada kita bahwa ada sesuatu diluar. Misalnya indera saya menangkap ada sesuatu yang bergerak di depan saya.

2.       Pemikiran (thingking)
Fungsi ini mengatakan kepada kita apakah sesuatu itu. Di sini mulai ada penilaian. Misalnya, ada sesuatu yang ditangkap indera saya. Ternyata sesuatu itu adalah seorang anak kecil. Dengan demikian, saya sudah melakukan penilaian terhadap sesuatu yang ditangkap dengan indera.

3.       Perasaan (feeling)
Fungsi ini mengatakan kepada kita tentang nilai daripada sesuatu. Misalnya, bagaimana perasaan saya terhadap sesuatu yang ditangkap indera? Perasaan kita tentu saja sangat tergantung pada nilai yang dilekatkan pada seorang anak kecil. Ada yang senang, ada juga yang terganggu.

4.       Intusi (intuition)
Fungsi ini mengatakan kepada kita secara tiba-tiba tentang apa yang penting untuk dilakukan. Misalnya, terapis tiba-tiba ad aide bagaimana menghadapi kliennya yang terlalu analitis.

Lapisan ektopsikis diatas menghubungkan kesadaran kita dengan banyaknya informasi dari lingkungan. Pada bagian lebih dalam dari lapisan ini, masih ada lapisan endopsikis yang terdiri dari dua fungsi dan dua komponen, yaitu:

Fungsi:
1.       Ingatan (memory)
Fungsi ini berisi berbagai informasi, baik yang menyenagkan maupun tidak menyenangkan yang pernah direkam oleh kesadaran.

2.       Komponen-komponen subjektif dari fungsi sadar
Fungsi ini mengatakan kepada kita tentang cara beradaptasi dengan situsi baru. Misalnya, bila saya diperkenalkan dengan seseorang yang belum pernah saya temui, maka saya bisa bereaksi subjektif dengan memikirkan banyak hal tentang orang itu, seperti karakter dan sifat-sifatnya.

Komponen:
1.       Afek (affect)
Afek adalah komponen yang membuat emosi kita menjadi tidak stabil. Afek dan emosi membuat control diri menjadi sangat lemah. Misalnya, saya mengatakan sesuatu yang membuat seseorang sangat tersinggung dan ia tiba-tiba menarik diri dan terdiam dengan tatapan tajam.

2.       Invasi (invasion)
Komponen ini membuat kita seolah-olah dirasuki kekuatan dari ketidaksadaran. Artinya, ketidaksadaran untuk sementara mengambil alih kesadaran. Umumnya orang yang seringkali dikuasai oleh factor ini dianggap patologis atau kerasukan setan atau roh jahat.

Semakin jelas bahwa, semakin kita membuka lapisan-lapisan kesadaran, semakin dalam eksplorasi, semakin besar tantangan yang dihadapi. Ini menunjukkan bahwa setiap orang ternyata sulit berkuasa penuh atas dirinya sendiri karena selalu ada kekuatan yang bisa mengambil alih fungsi sadarnya.

December 1, 2010

Hipnotisme Medis/Hipnoterapi

Hipnoterapis menghadapi klien dengan latar belakang psikologis dengan rentang sugestibilitas yang berbeda. Karena itu, menjadi hipnoterapis mempunyai tuntutan yang tidak mudah.

Lewat hipnotisme klinis, klien perlahan-lahan dan lembut diantar menuju dunia bawah-sadarnya. Pikiran dan tubuh klien dibuat santai terlebih dahulu sebelum masuk lebih dalam ke dunia bawah-sadarnya. Ketika mengalami trans, klien tetap bisa menolak sugesti yang diberikan. Tidak bijaksana memaksa mereka berekspresi bila belum ada kesiapan mental. Dalam pertemuan awal, klien mungkin tidak bisa mengingat banyak hal dan merasa seolah-olah sedang bermimpi. Sesi terapi biasanya dirancang dalam beberapa kali pertemuan untuk memperkuat efek sugesti yang diberikan.

Psikologi menawarkan banyak tekhnik terapiutik yang saling melengkapi dalam menghadapi klien. Disinilah pentingnya kreativitas memadukan berbagai teori psikologi dan tekhnik terapiutik ketika berhadapan dengan klien. Terapi relaksasi, behavioral (prilaku), Gestalt, atau humanistis kadang-kadang sudah cukup.

Kesadaran akan pentingnya pengenalan diri membuat hipnoterapi belakangan ini dikembangkan untuk tujuan transpersonal*, yaitu mengantar klien dalam menemukan diri terdalamnya. Hipnoterapis hanya bisa mengantar klien ke gerbang pengalaman transpersonal. Pencapaian diri terdalam adalah upaya pribadi jangka panjang yang bisa dicapai bila dilakukan dengan kedisiplinan dan ketelatenan.

Ada baiknya bagi setiap hipnoterapis untuk lebih mengenal pemahaman transpersonal tentang esensi kepribadian baik lewat praktik pribadi maupun teori-teori psikologi transpersonal.

*Istilah transpersonal ramai digunakan saat ini seiring dengan perkembangan psikologi transpersonal yang dipelopori oleh Abraham Maslow dan Anthony Sutich. Psikologi transpersonal berorientasi pada perubahan diri (self-transformation) dalam perjalanan menemukan diri-terdalam. Ada begitu banyak nama yang diberikan untuk diri-terdalam ini, seperti diri transpersonal, diri tran-sendental, diri sejati, dan jati diri.

Hipnotisme Forensik

Dalam bidang hukum, partisipasi psikologi ditunjukkan dengan kehadiran psikolog forensik. Psikolog ini umum di jumpai di kantor polisi, pengadilan, atau penjara untuk membantu mendeteksi dan mencegah kejahtan. Mereka juga bertugas memberi assesment dan merehabilitasi orang-orang yang di dakwa melakukan kejahatan. Di tahun 1980-an, hipnoisme mulai menarik perhatian untuk dijadikan bagian dari pelaksanaan tugas psikolog forensik.

Hipnosis forensik berkaitan dengan penerapan hipnotisme dalam penegakan hukum, khususnya dalam mengumpulkan informasi dari saksi mata dan korban untuk embantu mengungkap kasus kriminal. Hipnotis forensik bekerja dengan cara memanggil kembali ingatan yang sudah tidak jelas dan terkikis dalam perjalanan waktu. Hasil rekonstruksi ingatan itu disebut hypnotically refreshed memory (ingatan yang disegarkan dengan hipnotis) dan bila dilaporkan harus disertai rekaman audio visual.

Sekilas , pengalaman ini terkesan luar biasa. Ingatan memang bisa disegarkan kembali dengan membawa klien ke situasi awal. Meski demikian, kita sebaiknya tidak begitu aja percaya dengan ingatan yang muncul. Setiap respon klien harus dicek kembali kebenarannya. Psikolog Martin Orne mengemukakan, orang dewasa yang masuk dalam trans hipnotik tidak melihat masa kanak-kanaknya persis seperti di masa silam, tetapi melihatnya dalam perspektif orang dewasa. Pandangan ini kemudian mengandung konflik konseptual yang dikenal dengan nama “false memory syndrome (sindrom memori yang keliru)”.

Penelitian Elizabeth F Loftus dalam buku Eyewitness Testimony menunjukkan bahwa memori manusia rawan mengalami distorsi atau gangguan. Dalam penelitiannya, Loftus menemukan bahwaingatan saksi mata dipengaruhi oleh dugaan pribadi dan variable sosial. Sejumlah subjek yang diminta menonton suatu kecelakaan mobil member jawaban yang berbeda-beda ketika ditanyai tentang kecepatan mobil. Perbedaan jawaban dipengaruhi oleh pilihan kata (diksi). Kata “menyentuh”, “menabrak”, atau “menghantam” memiliki pengaruh bagi ingatan subjek mengenai kecepatan kendaraan. Kata “menhantam” akan membuat kecepatan mobil lebih tinggi dibandingksn dengan kata “menyentuh”. Karena itu, wajar saja bila penggunaan hypnosis forensic masih controversial karena pengadilan masih cenderung menganggap informasi yang diperoleh lewat hypnosis tidak reliable.

Hipnosis forensic dilakukan lewat prosedur yang disebut forensic hypnosis interview (wawancara hipnosis forensik). Untuk bisa berpraktik dibutuhkan pendidikan khusus dan sertifikasi. Di Amerika Serikat, hipnotisme forensic di negara bagian Texas. Polisi menggunakannya sebagai salah satu tekhnik pengumpulan data. Polisi dilatih khusus untuk itu dan diberi sertifikat sebagai tanda kelulusan. Sertifikat ini secara resmi dikeluarkan oleh Texas Commission on Law Enforcement Officers Standarization Education (TCLEOSE).

Bawah-sadar kita bukanlah ruang yang tertata rapi yang di dalamnya bermacam pengalaman sudah dikelompokkan dengan jelas menurut jenisnya. Ingatan-ingatan yang masuk ke dalam bawah-sadar tetap berinteraksi dan mempengaruhi cara kerja kesadaran sehingga diperlukan kemampuan untuk memilah antara ingatan rekonstruktif dan ingatan produktif. Karena itu, dalam mengguakan hipnotisme forensic, kita selalu peru memandang hipnotisme sebagai pelegkap bagi metode-metode pengumpulan data yang lain. Informasi yang diterima dari saksi atau korban masih perlu dicek silang kebenarannya.

November 19, 2010

Hipnosis Diri/ Otohipnotis

Suatu ketika seorang teman merasa sangat gelisah karea di hari berikutnya dia akan melakukan perjalanan pada pukul 6 pagi. Bisa di mengerti, dia pasti merasa khawatir tidak bisa bangun sebelum jam 6 pagi. Lalu saya mengatakan, “coba konsentrasi sesaat sebelum tidur dan katakana dalam hati , besok saya bangun jam 5 pagi”. Keesokan harinya , ia bangun tepat jam 5 dan merasa heran.
Sebenarnya banyak orang sudah melakukan hal seperti itudalam mengontrol waktu tidur mereka. Dalam hipnotisme, fenomena ini disebut human alarm clock effect (efek beker manusia). Peristiwa seperti ini menunjukkan baha setiap orang bisa belajar membawa dirinya sendiri ke dalam trans dan menanamkan sesuatu dalam bawah-sadarnya untuk mengarahkan prilakunya di masa depan. Inilah yang disebut hypnosis-diri (self hypnosis/autohypnosis).
Hipnosis diri dapat di capai dengan macam-macam cara, seperti menciptakan sendiri gambaran viual, mendengarkan kaset-kaset relaksasi, melakukan meditasi, membuat otot-otot tubuh menjadi santai (progressive muscl relaxation), atau berbicara dengan diri sendiri (autogenetika).
Hipnosis diri dilakukan dengan tetap mempertahankan diri pad level kesadaran. Dengan demikian, control diri tetap berjalan. Bagi mereka yang memahami prosedur hypnosis atau pernah menjalani hipnoterapi, hypnosis diri lebih mudah dilakukan. Caranya dengan mengingat prosedur induksi yan ada dalam skrip atau merekam induksi pada CD ata kaset dan mendengarkannya. Ketika merekam suara skrip harus di baca dengan empo yang pelan dan sesekali, membuat jeda.
Secara umum hipnsis-diri bisa digambarkan sebagai berikut; ketika masuk dalam relaksasi yang dalam, gambarkan diri anda dalam keadaan yang anda inginkan. Misalnya, bila ingin berhenti merokok maka gambarkan diri anda seterang terangnya sebagai orang yang berhenti merokok dan selalu merasa segar tnpa asap rokok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam proses ini, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang tersera kedalam trans dan kesadarannya menjadi hilang. Bila masih ada ketakutan seperti itu, ada baiknya menentukan lama waktu yang akan digunakan untuk hypnosis-diri, misalnya seseorang menyugesi dirinya bahwa ia akan bangun 30, 45, atau 60 menit kemudian.
Kualitas hypnosis-diri memang tidak sedalam hypnosis yang dilakukan dalam bimbingan terapis. Ini karena ketika seseorang ingin masuk kedalam tidur hipnotik, I tetap menjalankan peran sebagai pelaksana atau operator. Dalam hipnoterapi, pekerjaan menjadi lebih mudah karena tugas operator diserahkan kepada terapis.

Sumber : YF Lakahija, Dasar dasar hipnoterapi

November 16, 2010

Hipnotisme Hiburan

(Sebagai lanjutan dari postingan yang lalu mengenai jenis-jenis hipnotis)

Banyak orang mengenal hipnotisme lewat dunia hiburan sehingga pengalaman itu akhirnya digeneralisasi ke bentuk bentuk hipnotisme yang lain. Hipnotisme hiburan biasanya dijumpai dalam tayangan televisi atau pertunjukan panggung yang menampilkan sosok hipnotis yang mampu membawa partisipan kedalam trans dalam waktu yang singkat. Hipnotisme hiburan mempertontonkan bagaimana partisipan seolah olah dikontrol  oleh hipnotis dan bisa diperintah menurut kemauan sang hipnosis. Orang yang di hipnotis seolah olah menjadi robot yang bisa di kontrol sepenuhnya. Dalam hipnotisme anggapan  seperti ini disebut efek svengali. Perhatikan apa yang bisa dilakukan seorang hipnosis seperti Uya Kuya dalam realiti shownya menghipnotis orang. Inilah salah satu contoh hipnotisme hiburan yang bisa kita saksikan.

Karena itubisa dimengerti mengapa klien yang datang menemui hipnoterapis kadang kadang sudah terkena efek svengali. Dalam memberikan kejelasan kepada klien, ada 2 alasan yang perlu dikemukakan:

  1. Pengalaman hipnotis adalah pengalaman yang  murni individual. Setiap orang yang bersedia di hipnosis akan bisa di hipnosis. Prosesnya bisa lama bisa singkat, tergantung pada sugestibilitas. Karena itu oarang yang terhipnosis di layar kaca atau di panggung bukanlah hasil pilihan acak, melainkan incaran.
  2. Orang yang terhipnosis tidak akan menerima sugesti yang bertentangan dengan nilai nilai agama atau moralitas yang berakar kuat dalam dirinya. Bila partisipan menganggap telanjang di depan umum adalah prilaku yang sangat tidak etis, maka ia akan bangun dari tidurnya ketika diminta untuk telanjang. Kenyataan ini kembali menunjukkan bahwa kesadaran klien masih aktif ketika mengalami trans.

Dalam atraksinya, hipnotis mula mula memilih beberapa orang yang diyakini mudah disugesti. Orang orang yang dilibatkan adalah mereka yang sengat responsif terhadap sugesti. Bila ada kesalahan memilih, orang itu akan dikembalikan ketengah penonton dengan alasan “ sudah cukup”.  Untuk memberi kesan dahsyat, prosesnya dipercepat. Teknik yang digunakan disebut induksi cepat (rapid induction). Sugestibilitas yang tinggi sangat diperlukan karena subjek akan di bawa kedalam trans medium atau trans dalam sehingga bisa diminta berprilaku seperti yang dikehendaki sang hipnotis.

Bila dicermati, orang yang bersedia berpastisipasi sebenarnya secara tidak langsung telah membuka diri untuk di hipnosis sehingga sugesti hipnosis lebih mudah bekerja. Kebersediaan untuk berpartisipasi sebenarnya sudah menunjukkan rapport (jalinan kepercayaan dengan hipnotis). Setelah itu, subjek membiarkan dirinya mengikuti omongan hipnotis. Akhirnya induksi cepat bisa dilakukan karena subjek sudah menunjukkan kemudahan untuk disugesti.

Dalam keadaan terhipnotis, kesadaran klien masih berfungsi. Kesadaran tidak hilang, tapi hanya mengalami perluasan ke bawah-sadar, yaitu gudang tempat segala pengalaman hidup. Semua pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan terekam dengan baik dalam bawah-sadar. Kenyataan inilah yang membuat partisipan hanya bisa melakukan perintah hipnotis yang sejalan dengan pengalamannya.

Dalam masyarakat kapitalis, jenis hipnotisme ini menarik untuk dijadikan lahan mengumpulkan uang. Sang hipnotis perlu bergaya layaknya selebritis karena ia nantinya akan menjadi pusat perhatian. Untuk suatu pentas hiburan, kesan yang kuat dan perasaan tercengang memang diperlukan untuk menarik lebih banyak minat dan perhatian publik.

Sumber: YF La Kahija, Dasar-dasar Hipnoterapi

November 1, 2010

Penasaran dengan 'Hipnotis'???


Sejauh ini kita sudah sangat akrab dengan kata “hipnotisme”. Perlu ditambahkan bahwa hipnotisme hanyalah kata umum yang maknanya sangat bergantung pada konteks. Paling tidak, ada 5 jenis hipnotisme yang berkembang saat ini:

1.Hipnotisme panggung atau hiburan; karena hipnotisme jenis ini sebagai sarana hiburan publik semata.
2.Hipnosis -diri atau otohipnotis; jenis yang satu ini sebagai sarana untuk menyugesti diri sendiri dan masuk ke dalam bawah-sadar pribadi untuk tujuan terapeutik dan pengembangan diri.
3.Hipnotisme forensik; apabila digunakan sebagai sarana merangkai kembali ingatan-ingatan korban kejahatan atau saksi mata dalam persidangan.
4.Hipnotisme eksperimental; bila ditujukan untuk melakukan penelitian penelitian eksperimental.
5.Hipnoterapi atau hipnotisme medis; apabila dipergunakan sebagai sarana terapeutik.

Dari beragam jenis hipnotisme di atas, muncul pertanyaan: bisakah dikemukakan satu definisi yang umum berlaku tentang hipnotisme?.

Tokoh yang pertama kali menggunakan istilah “hipnotisme” adalah James Braid. Hipnotisme adalah singkatan dari “neurohipnotisme” yang berarti tidurnya sistem syaraf (nervous sleep). Menurut Braid, hipnotisme hanyalah akibat dari tidurnya sistem syaraf karena perhatian visual yang terfokus dan terkonsentrasi pada satu objek. Meski sempat merevisi pandangannya, namun Braid tetap berkeyakinan bahwa sebab utama hipnosis adalah terpusatnya kesadaran pada satu objek atau ide tertentu.

Sigmund Freud melihat hipnosis sebagai keadaan tidur yang memiliki tingkat trans (keadaan keadaan yang bisa terjadi diluar kesadaran) yang bervariasi mulai dari ringan sampai ekstrem. Pada tingkat yang ringan, klien akan mengalami penurunan dalam kemampuan indera untuk menangkap stimulus eksternal, sementara pada tingkat yang ekstrem klien mengalami 'somnabolisme' atau berjalan disaat tidur. Freud juga menekankan perlunya pembedaan antara tidur hipnotik dan tidur alamiah pada malam hari. Dalam tidur hipnotik, proses proses mental tertentu tetap bekerja.
 
Gil Boyne yang digelari pelatih para hipnotis di Amerika dan pendiri Dewan Pemeriksa Hipnotis Amerika (American Council of Hypnotist Examiners) memandang hipnosis sebagai keadaan pikiran normal yang dicirikan dengan; relaksasi yang dalam, keinginan mengikuti sugesti yang sejalan dengan sistem kepercayaan, pengaturan diri dan normalisasi sistem syaraf pusat, sensitivitas yang meningkat dan selektif terhadap stimuli eksternal dan mekanisme pertahanan psikis yang melemah.

Dari beberapa pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa hipnosis sebagai keadaan terfokusnya perhatian pada meningkatnya sugestibilitas sebagai efek dari sikap kooperatif dengan orang lain. Dalam hipnoterapi, fokus perhatian tidak harus berupa objek fisik (jam, atau pendulum), tetapi juga objek mental seperti metafora atau cerita cerita yang bisa mengaktifkan bawah sadar klien.

Untuk sampai pada trans, klien perlu meningkatkan sugestibilitasnya dan terapis perlu mengetahui teknik yang baik dalam memberi sugesti. Semua proses ini akan berjalan dengan baik bila ada rapport (kepercayaan) antara terapis dan klien.

Kita sudah mengetahui definisi tentang hipnosis, lalu bagaimana dengan 'hipnotisme'?. Dalam The American Heritage Dictionary (second edition), hipnotisme diartikan sebagai “ the teory or practice of inducing hypnosis (teori atau praktek yang menyebabkan hipnosis); an act of inducing hypnosis (tindakan yang menyebabkan hipnosis)”. Sementara hipnosis di definisikan “an artificially induced sleeplike condition in which an individual is extremely responsive to suggestion made by the hypnotist (keadaan seperti tidur yang dimunculkan secara artificial dimana seseorang menjadi sangat responsif terhadap sugesti yang diucapkan oleh hipnotis)”. Jadi, hipnotisme dan hipnosis jelas berbeda. Namun, sejak tahun 1950-an istilah hipnotisme sering dipertukarkan dengan hipnosis. 

Untuk bahasan mengenai kelima jenis hipnotisme diatas, tunggu postingan berikutnya.