Translate

Showing posts with label Kahlil Gibran. Show all posts
Showing posts with label Kahlil Gibran. Show all posts

March 15, 2012

Nyanyian Malam

Malam berlalu dengan keheningan
Menyimpan mimpi di balik pakaian kesunyian
Sedangkan bulan purnama berlari kecil
Sebab ia memiliki mata-mata
Yang mengintp perjalanan hari-hari.

Kemarilah wahai puteri ladang
Mari kita mengunjungi anggur para pencinta
Mungkin kita bisa memadamkan bara rindu
Dengan perasaan anggur-anggur itu.

Dengarkanlah suara burung bulbul
Yang menuangkan lagu-lagu
Ditengah lading, diatas anak bukit
Meniupkan desau angin ke atas cakrawala.

Jangan takut wahai gadisku
Sebab bintang-bintang akan menyimpan
Kabar berita tentang kita
Dan kabut malam akan menutupi rahasia.

January 13, 2012

Musik dan Suara Alam

 ## dari Khalil Gibran - an Nabda Fii Fan Al Musica ##

Saat manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, ia di anugrahi alunan nada music untukdigunakan sebagai bahasa yang istimewa. Bahasa itulah yang menceritakan rahasia-rahasia yang tersimpan rapi dalam hati manusia. Aluna nada music menjadi dialog antara isi hatinya manusia. Musik bagaikan cinta yang mempengaruhi perjalanan hidup manusia.


Alunan nada itulah yang disenandungkan oleh bangsa Barbar di gurun-gurun  tandus, sehingga menggetarkan perasaan para raja di istana. Ia adalah komposisi kesedihan, penderitaan, serta ratapan kematian. IA juga mampu menjadi rintihan pujian yang mencabik-cabik kebekuan hati.

Alunan nada music adalah kumpulan perasaan baghagia yang bertaburan dimana-mana, lalu menjadi sebuah senandung yang menghibur sedihnya penderitaan. Musik adalah khutbah matahari saat ia menghidupkan bunga-bunga di taman, dengan sinarnya yang penuh kehangatan.


Musik bagaikan benderang cahaya lampu yang mengusir pasukan kegelapan jiwa, lalu menghadirkan terang di hati, sehingga mampu menampakkan isinya di sudut terdalam. BAgiku, alunan nada adalah bayangan jati diri. Ia adalah khayalan – khayalan indrawi yang sejati.

Musik mampu menjadikan jiwa kita seperti cermin yang tegak lurus berhadapan dengan berbagai peristiwa alam. Sedangkan para pemusik adalah orang-orang yang bertugas memantulkan gambaran yang kita bayangkandan kita khayalkan. Musik mampu membuat jiwa kita menjadi bunga halus dalam sentuhan angin takdir.

Tetesan-tetesan embun fajar membuat jiwa-jiwa bergetar. Hembsan angin pagi membuat kepala tertunduk, terlelap dalam damai. Kicau burung membangunkan insane dari tidur lelapnya. Ketika ia menyimak dan merasakan kicauan itu, ia lalu melontarkan pujian kepada Yang Maha Abadi, yang telah mwnciptakan kicauan burung yang merdu. Ia juga memujinya karena telah menciptakan perasaan yang sangat halus untuknya.

July 20, 2011

Musik dan Kekasih


An-Nabdah Fi Fann al-Musiqa
Musik-musik semesta; part 02#


Pada suatu ketika, aku pernah duduk berdampingan dengan seorang perempuan dan dia adalah kekasihku. Aku sangat mencintainya dengan sepenuh jiwa. 


Aku duduk di sampingnya sambil mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Aku meyimak perkataannya sambil memperhatikan dua kelopak bibirnya.


Saat mendengarkan kata-katanya, aku merasakan kekuatan dahsyat dalam suaranya. Kekuatan itu membuat hati bergetar bagai tersengat aliran listrik.


Kekuatan itulah yang membuat jiwaku melayang dan berenang di luas bentang cakrawala yang tak terbatas.
Jiwaku yang melayang, melihat alam raya tampak seperti mimpi. Jiwaku yang melayang, melihat rongga jasad tampak seperti penjara sempit.


Suara perempuan itu seolah menyimpan daya magis yang menyihir segenap perasaan. Aku terhipnotis hingga tak kuasa menggerakkan lidah untuk berucap. 


Sebab yang terdengar hanyalah kata-kata kekasihku itu. Bagiku seperti itulah kiranya alunan nada musik.


Ketika dia mendesah saat mengulang beberapa ucapan sambil sesekali tersenyum, di situlah alunan musik terdengar.
Suara desahan saat ia bercerita dengan kata terputus-putus, atau saat dia berkat dengan kalimat yang sempurna dan panjang, itulah alunan nada musik.


Demikian pula suara desahan yang kudengar, saat ia berbicara dengan beberapa kata, kemudian berhenti sejenak untuk menarik nafas, dengan menyisakan kata-kata sambungnya di ujung kedua bibirnya yang tipis indah.


Saat itu aku benar-benar  melihat isi hatinya, dengan mata telingaku. Isi hatinya membuaku lupa aka nisi pembicaraanya.  Bagiku, perasaan hatinya yang menyatu dengan alunan nada music adalahsuara jiwa.


Ya, musik memang suara jiwa. Nada-nada yang terlontar dari music adalah hembusan lembut angin gurun yang menggetarkan senar dawai cinta.

May 6, 2011

Musik & Emosi Jiwa


an-Nabdah Fi Fann al-Musiqa (kahlil Gibran)

Musik-musik semesta; Part 01#


Musik adalah jemari halus yang mengetuk pintu kalbu untuk membangunkan kehangatan dari tidurnya yang lelap. Ketukan jemari itu membuat hamparan kenangan hadir kembali, setelah hilang ditelan pekatnya malam.

Ketukan itu membuat kenangan masa silam terbuka kembali, setelah diselubungi berbagai peristiwa yang selalu dating silih berganti.

Alunan nada-nada music adalah senandung lembut yang kerap hadir di lembar-lembar imajinasi. Jika nada-nada itu dilantunkan dalam melodi kesedihan, maka ia menghadirkan kenangan silam disaat gundah dan putus asa.

Tapi jika dilantunkan pada saat hati senang, maka music menghadirkan kenangan silam disaat damai dan bahagia.


Alunan nada-nada music adalah kumpulan suara kesedihan yang membuat segala kegelisahan memenuhi tulang rusuk, lalu menghadirkan seribu duka.

Tapi ia juga bias berupa susunan kata-kata ceria yang segera menguasai kalbu kita, lalu menari riang di sela tulang rusuk, menghadirkan seribu bahagia.

Alunan nada music adalah petikan pada dawai, yang masuk ke pendengaran kita, membawa gelombang lembut. 


Kadang ia mampu memaksa tetesan airmata menyeruak dari kelopak, karena merasa gerah bagai tersulut oleh api kerinduan, tak tahan pada desakan gelisah cinta sat berpisah dengan kekasih, karena himpitan kepedihan cinta yang luka tergores cakar-cakar penantian.

Namun ia juga mampu menghadirkan simpul senyuman yang keluar perlahan dari gerakan lembut sepasang bibir indah, sebagai isyarat rasa senag dan bahagia.

Alunan nada music adalah nafas terakhir akalnya hati dan nafsunya jiwa.

March 18, 2011

Nyanyian Kebahagiaan




Manusia adalah kekasihku dan aku adalah kekasih manusia. Aku merindukan manusia dan manusia jatuh hati kepadaku. Namun, dalam mencintainya aku mendapatkan saingan yang menyusahkan aku dan menyiksa manusia.


Ia adalah binatang buas yang kejam. Ia adalah sebuah benda yang biasa disebut materi, yang selalu mengikuti kami, kemanapun kami pergi. Ia menguntit kami bagaikan pengawal.

Aku mencari kekasihku di hutan belantara, tapi aku tidak menemukannya. Aku juga telah mencarinya di bawah pohon-pohon, tapi aku tidak dapa menjumpainya. Aku berusaha menemukanya di tepi danau, tapi aku hanya menemukan kegagalan.



Rupanya, sang materi elah menipu kekasihku. Ia telah membawanya ke kota, ke tengah masyarakat. Ia membawa kekasihku menuju kerusakan dan kesengsaraan.

Aku berusaha menemukan kekasihku di pondok-pondok pengetahuan dan di kuil-kuil kebijaksanaan, tetapi ia tidak kutemukan. Sebab sang materi yang berpakaian tanah, telah membimbingnya ke tempat-tempat logika egoism, tempat dimana nafsu dan agresivitas bermukim.

Aku telah mencarinya di kebun-kebun kepasrahan, tetapi aku juga gagal menemukannya. Sebab musuhku telah mengikatnya di kegelapan gua-gua ketamakan dan lorong-lorong keserakahan.


Saat pagi tiba, ketika matahari bangun dan tersenyum di peraduan timur, dan tersenyum, aku memanggil-manggil kekasihku, tetapi ia tidak mendengar panggilanku. Rasa kantuk yang menahannya, telah memberati kedua matanya.

Pada sore hari, saat kesunyian memimpin perhelatan malam dan ketika bunga-bunga mulai tidur, aku mulai merayu dan membujuknya. Namun ia tidak menyambutku, sebab hatinya disibukkan oleh kerinduan akan datangnya pagi.


Manusia, sang kekasih yang kucintai, menuntutku agar mengikutinya dalam setiap tindakannya. Itu tidak mungkin, sebab ia hanya bisa bertemu denganku dalam pekerjaan yang direstui oleh Allah.

March 10, 2011

Keutuhan Jiwa

Kahlil Gibran………

Bangunlah, Cintaku. Bangkitlah! Karena jiwaku mengelu-elukanmu dari dasar laut., dan menawarkan padamu sayap-sayapnya dari atas gelombang dahsyat.

Bangkitlah, karena kesunyian telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.
Rasa kantuk telah memeluk roh setiap lelaki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku.

Cinta membawaku dekat denganmu, namun kecemasan mencampakkan diriku jauh darimu.

Aku telah meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, karena takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut.
Aku telah membuang bukuku, karena keluhku mengunci kata-kata dan desah naasku mengabaikan halaman buku yang kosong di depan mataku!

Bangun, bangkitlah, Cintaku dan dengarkan aku!
Aku mendengarkanmu, Kekasihku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu. 

Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku. Di sinilah aku berdiri, di bawah bunga-bunga pohon Almond, memenuhi panggilan jiwamu.

Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan napasmu yang di bawa angin gunung sampai padaku melalui lembah-lembah Lebanon kuhirup. 

Bicarah. Tak ada yang akan mendengar selain diriku. Malam telah melarutkan semua manusia di atas tempat tidurnya.

Surga telah menyulam temaram cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Lebanon,Kekasihku.
Surga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dari atas cerobong pabrik-pabrik, napas kematian, dan menggelarnya di telapak kota, Cintaku.


Para penduduk telah pulas menggantang mimpi di gubuk-gubuk mereka di tengah pohon kenari. Jiwa mereka mempercepat langkah mereka mengejar negeri mimpi, Kekasihku.

Lelaki-lelaki lunglai memanggul emas, dan curamnya tebing yang mereka lalui melemaskan lutut mereka. Mata mereka mengantuk karena dililit kesulitan dan ketakutan. Mereka melemparkan tubuh ke atas tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu menakutkan dan mengerikan, Cintaku.

Hantu-hantu masa lalu bergentayangan di lembah-lembah. Jiwa para raja dan nabi melintasi bukit-bukit.
Pikiranku yang berhias kenangan mengungkap kekuatan bnagsa Chaldea, kemegahanbangsa Asyria, dan keluhuran bangsa Arab.

Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri ynag tegap berjalan, moncong-moncong nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung dengan kematian, muntah-muntah sepanjang jalan. Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan tampaklah Sodom yang menjijikkan, serta dosa-dosa Gomorah.

Ranting-ranting berayun, Kekasihku, dan desaunya bertemu dengan desiran anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan tembang Ishak al-Mausili mengiang-ngiang di telinga kami.

February 23, 2011

Sahabat Bagi Kahlil Gibran

Kita ketahui bersama bahwa seorang Kahlil Gibran dengan segala talenta dan kelebihan yang ada dalam dirinya tidak akan tergantikan sepanjang zaman. Pun kita tahu bahwa sampai akhir hayatnya dia hidup menyendiri tanpa seorang pendamping hidup maupun keturunan. 

Bersama adik perempuan satu-satunya yang tersisa, ia banyak menghabiskan waktu di studio miliknya bersama rekan-rekan dan para sahabatnya.

Karena itulah KG membuat suatu tulisan sebagai penghargaan sekaligus cerminan kecintaan dan rasa kagum  dia kepada sahabat-sahabatnya, yang setia mendampingi, membatunya bangkit saat terjatuh, membuatnya tersenyum kala berduka yang terpenting selalu ada untuk KG sampai akhir usianya.

Ini tulisan beliau gambaran tentang seorang sahabat;


Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa.
Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.

Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan Api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian.
 
Ketika ia menyampaikan pendapat, kalbu tak kuasa menghadang dengan bisikan kata “tidak”, dan tak pernah khawatir untuk menyembunyikan kata “ya” 

Bilamana dia terdiam tanpa kata hati senantiasa mencari rahasianya.

Dalam persahabatan yang tanpa kata, segala fikiran, hasrat, dan keinginan terangkum bersama, menyimpan keutuhan dengan kegembiraan tiada terkirakan. 

Ketika tiba saat perpisahan janganlah ada duka, sebab yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan. 

Seperti gunung yang nampak lebih agung dari padang dan ngarai. 

Lenyapkan  maksud  lain dari persahabatan  kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.

Karena cinta berpamrih yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,  bukanlah cinta, tetapi sebuah jaring yang ditebarkan ke udara dan hanya menangkap kekosongan semata.

Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah diamengenali pula musim pasangmu.

Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktu.
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu.

Sahabat kan  mengisi kekuranganmu  bukan  mengisi  kekosonganmu.


Dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa kegirangan, berbagi duka dan kesenangan.
 
Karena dalam rintik lembut embun, hati manusia menghirup fajar yang terbangun dan kesegaran gairah  kehidupan. 

February 7, 2011

Nyanyian Hujan

Dalam bukunya An-Nabdah Fi Fann al-Musiq, Kahlil Gibran menggambarkan bagaimana alam semesta ini mencipta music, mereka bernyanyi dengan senandung masih-masing dan di waktunya masing-masing mereka mendendangkanya memenuhi carawala bumi.

Setiap kejadian di bumi mencipta suatu gubahan lagu, makhluk di muka bumi, peristiwa alam semuanya memiliki gubahan lagu sendiri.


Nyanyian Hujan

Aku adalah benag-benang perak yang diulurkan oleh para dewa dari tempat-tempat yang tinggi, kemudian di ambil oleh bumi untuk dijadikan hiasan lembah-lembahnya.

Aku adalah kumpulan mutiara yang terpatri pada mahkota isytar, kemudian dicuri oleh puteri-puteri pagi untuk dipasang di kebun-kebun bumi.

Ketika aku menangis tersedu, maka kabut pun tersenyum ceria. Saat aku merunduk hina, maka bunga-bunga di kebun mendongak dengan angkuhnya.

Awan dan kebun adalah dua kekasih yang saling mencinta, sedangkan aku adalah kurir pesuruh yang selalu siap di antara kedua kekasih itu. 


Aku jatuh bercucuran untuk mendinginkan rasa haus di satu tempat, serta menyembuhkan kekeringan di tempat lain.
Gelegar suara petir dan kilatan pedang halilintar selalu menyambut kedatanganku. Dan pelangi mengumumksn berakhirnya persembunyianku.

Itulah gambaran kehidupanku di bumi ini. Kehidupan senantiasa di mulai oleh keangkara murkaan dan berakhir dengan cengkraman kematian yang sunyi.

Aku naik dari kedalaman dasar danau dan berjalan melintasi sayap-sayap cakrawala. Ketika aku menyaksikan taman-taman di bumi maka aku menjatuhkan diri, mencium kelopak bunga-bunganya, dan memeluk dahan-dahannya.

Dalam keheningan, aku mengetuk langkan jendela rumah manusia dengan jemariku yang lembut. Suara ketukan itu kemudian menciptakan gubahan sebuah lagu yang hanya akan di mengerti oleh jiwa-jiwa yang penuh perasaan.

Panas terik yang ditimbulkan oleh udara telah melahirkanku, tetapi kemudian aku membunuh panasnya udara. Seperti itulah keadaan perempuan yang mengalahkan laki-laki, dengan kekuatan yang diambilnya dari laki-laki itu pula.

Aku adalah rintihan panjang yang dikeluhkan lautan. Aku adalah cucuran airmata kesedihan langit. Aku adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga.


Begitulah hakikat cinta. Ia adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih saying. Ia adalah cucuran airmata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga jiwa.

January 10, 2011

Akulah Cinta

Masih merupakan bagian dari kumpulan karya-karya melegenda seorang Kahlil Gibran, enjoy it.


AKULAH CINTA


Akulah cinta, akulah anggur jiwa, akulah santapan hati.
Akulah mawar yang membuka hatiku di awal hari, lalu
Seorang gadis memetikku, menciumku, dan meletakkan aku dia tas dadanya.

Akulah rumah kebahagiaan, akulah sumber kegembiraan, akulah pengawal kedamaian.
Akulah senyuman lembut pada sepasang bibir perawan.
Pemuda melihatku, dan terlupalah dia akan beban kerjanya.
Hidupnya menjadi pentas mimpi-mimpi indah.

Akulah sang pewahyu penyair, penunjuk pelukis, dan guru musikus.
Akulah pandangan di mata sang bocah yang di lihat ibunya.
Maka sang ibu lalu bersujud, berdoa, dan menyanjung Allah.

Aku merasuki Adam dengan jelmaan Hawa, dan menaklukkannya.
Aku tampil pada Sulaiman dengan rupa kekasihnya.
Dan menjadikannya orang arif dan pujangga.

Aku tersenyum untuk Helen, dan hancurlah Troya.
Aku memahkotai Kleopatra, menebar suka cita dilembah Nil.

Aku bagaikan masa, hari ini membangun esok menghancurkannya.
Akulah yang menghidupkan dan mematikan.

Aku melebihi lembut desah bunga lembayung.
Tapi aku lebih kuat daripada prahara.

Akulah kebenaran, duhai manusia.
Akulah kebenaran, dan itulah yang terbaik untuk kalian ketahui.


December 31, 2010

Nesehat Jiwaku Pada Diriku Sendiri

Euforia AFF Cup sudah berakhir, tropi sudah di Kuala Lumpur namun banyak kalangan masih saja ramai memperbincangkan ini dan itu, pro kontra dan semacamnya.

Jenuh dengan keadaan ini, saya ingin sharing kepada anda semua salah satu tulisan Kahlil Gibran yang cukup menenaNgkan hati setiap selesai membacanya. Sebagian besar mungkin sudah pernah mendengarnya, membacanya atau juga tulisan ini ada di salah satu buku koleksi KG anda.

NASEHAT JIWAKU PADA DIRIKU SENDIRI

Jiwaku mengajar dan mendidikku untuk mencintai apa yang orang lain benci dan menjadi teman bagi siapa saja yang dicaci maki.

Jiwaku menunjukkan pada diriku bahwa cinta juga merasa bangga terhadap dirinya, bukan hanya kepada orang yang dicintainya. Lebih dari itu juga kepada orang yang mencintainya.

Sebelum jiwaku mengajariku, cinta dihatiku seperti benang tipis yang terikat pada dua pasak. Tetapi kini, cinta telah menjadi sebuah lingkaran keramat yang permulaannya adalah akhir dan akhirnya adalah awal.  Cinta itu mengelilingi setiap makhluk dan perlahan-lahan berkelana kemana-mana dan memeluk siapa saja yang dapat direngkuhnya.

Jiwaku menasehati dan megajariku untuk mengerti keindahan kulit, sosok dan warna-warni yang tersembunyi. Ia memintaku untuk merenungkan apa yang dianggap orang lain lucu, juga merenungkan pesona dan kesenangan yang sebenarnya.

Sebelum jiwaku member anjuran padaku, aku melihat keindahan seperti sebuah sinar lampu yang bergetar diantara kepulan asap. Setelah asap itu lenap, aku melihat kekosongan, hanya lidah api yang tampak.

Jiwaku mengajari dan mendidikku untuk mendengarkan suara-suara yang tidak terucap oleh lidah, taring dan bibir.

Sebelum jiwaku mengajariku, aku mendngar kekosngan, tetapi tiba-tiba ada teriakan dan lengkingan. Sekarang aku tak sabar untuk menemui kesunyian dan mendengar padua suara yang menyanyikan lagu kehidupan, cakrawala yang keluar dan rahasia yang tak tampak.

Jiwaku mengajari dan memintaku untuk meminum anggur yang tidak dapat diambil dan dituang dari kendi yang dapat diangkat tangan dan disentuh bibir.

Sebelum jiwaku mengajariku, dahagaku layaknya lentik api yang hamper padam tertutup abu, namun abu yang dapat dibersihkan dengan seteguk air.

Namun sekarang, keinginan menjelma menjadi cangkirku, kesayanganku, anggurku, kesepianku, kemabukanku sendiri. Dalam dahaga yang tak tertuntaskan terdapat kegembiraan abadi

Jiwaku mengajari dan mendidikku untuk menyentuh apa saja yang tidak menjelma. Jiwaku membukakan mataku bahwa apa saja yang kita sentuh adalah bagian dari nafsu kita.

Namun, saat ini jari-jariku telah menyentuh kabut, menembus apa yang tampak di alam dan bercampur dengan apa yang tidak tampak.
Jiwaku memintaku mencium bau harum tanpa wewangian kemenyan.

Sebelum jiwaku mengajariku, aku sangat membutuhkan parfum di taman, di botol atau di pedupaan.

Tetapi, aku dapat menikmati bau dupa bakar untuk pemujaan. Dan kuisi hatiku dengan wewangian yang tidak pernah dihembuskan oleh anginsegar.

Jiwaku mengajari dan mendidikkuuntuk berkata, “Aku telah siap” ketika makhluk tak dikenal datang memanggilku.

Sebelum jiwaku mengajariku, mulutku tidak berkata-kata kecuali hanya meluapkan tangisan yang aku sadari, dan tidak berjalan kecuali diatas jalan yang mudah dan mulus. Sekarang makhluk tak dikenal itu telah menjadi seekor kuda yang dapat kunaiki untuk mencapai Tuhan, dan daratan telah menjadi tangga di mana aku memanjatnya untuk meraih puncak.

Jiwaku berbicara padaku, jangan mengukur waktu dengan mengatakan, “yang ada hanyalah kemarin dan hari esok”. Dan sebelum jiwaku berkata padaku, aku membayangkan waktu yang lalu seperti epos yang tidak pernah berulang, sedangkan masa depan adalah epos yang tidak dapat diganti.

Sekarang aku menyadari bahwa saat sekarang mengandung semua waktu dan di dalamnya semua harapan dapat disandarkan, dengan cara bekerja keras guna mewujudkannya.

Jiwaku menyadari dan mendesakku agar tidak membatasi ruang dengan mengatakan,”Di sisi, di sana, dan di seberang sana”.
Sebelum jiwaku mengajariku, aku merasa bahwa dimana saja aku berjalan selalu jauh dari tempat lain. Detik ini aku menyadari bahwa dimana aku berada, aku mempunyai seluruh ruang, dan jarak yang kutempuh adalah sepanjang dunia.

Jiwaku meminta dan menasehatiku untuk bangun ketika aku tidur. Dan supaya tidak tidur jika orang lain bekerja. Sebelum jiwaku mengajariku, aku tidak melihat mimpi-mimpi mereka didalam tidurku, mereka juga tidak mengetahui apa yang kupikirkan.

Sejak hari ini aku tidak pernah lagi berlayar ke lautan mimpi, jika mereka tidak melihatku dan tidak terbang membumbung tinggi ke angkasa serta jika mereka sudah menikmati kegembiraan dalam kebebasan.


Jiwaku mengajariku, dan sapanya, “jangan terlalu gembira jika di puji, dan jangan bersedih jika disalahkan”.  Sebelum jiwaku memberiku nasehat, aku meragukan harga pekerjaanku.

Kini kusadari bahwa pohon-pohon menguncup di musim semi, berbuah di musim panas tanpa berharap untuk di puji. Daunnya rontok di musim gugur dan tubuhnya telanjang di musim dingin tanpa merasa takut disalahkan.

November 8, 2010

Puisi Prasangka

Ketika kau tenun prasangka di kehidupan pagiku
Ketika kau ikatkan cela di kehidupan malamku
Sungguh engkau takkan mampu merobohkan
Kuatnya benteng kesabaranku.

Engkau tak kan mampu menumpahkan tuak kesukaanku
Dari cawan-cawannya.

Hidupku adalah rumah yang tenang
Lubuk hatiku adalah kuil penyembahan
Untuk Tuhan Sang Pembebas.

Sungguh, orang yang merasakan nikmatnya kepedihan
Maka ia takkan takut merasakan pesona mimpi.

 Syair ini terdapat dalam tulisan Kahlil Gibran  " An-Nabdah Fi Fan Al-Musiqa"

October 29, 2010

CINTA SANG NABI

Berikut salah satu syair seorang 'Kahlil Gibran' yang tetap abadi tak lekang oleh waktu.

Cinta Sang Nabi

Bila cinta memanggilmu, turutlah bersamanya
Walau jalan yang mesti engkau lalui sangat terjal dan berliku.

Ketika sayap sayapnya merangkulmu, berserah dirilah padanya
Sekalipun pedang pedang yang bersemayam di balik sayap sayap itu
Barangkali akan melukaimu.

Ketika ia bertutur kepadamu, percayalah padanya
Walaupun suaranya akan memporak porandakan mimpi mimpimu
Laksana angin utara yang meluluhlantakkan taman.

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu
Menyuburkan dan mematikanmu
Membumbungkanmu terbang tinggi
Mengelus pucuk pucuk rantingmu yang lentik
Dan menerbangkanmu ke wajah matahari.

Namun cinta juga akan mencekik dan menguruk akar akarmu
Sampai tercerabut dari perut bumi.

Serupa dengan sekantong gandum
Cinta menyatukan dirimu dengan dirinya
Melolosmu sampai engkau bugil bulat
Mengulitimu sampai engkau terlepas dari kulit luarmu
Melumatmu untuk memutihkanmu
Meremukkanmu sampai engkau menjelma liat

Lantas,
Cinta akan membopongmu ke dalam kobar api suci
Sampai engkau berubah menjadi roti
Yang disuguhkan dalam suatu jamuan agung kepada Tuhan.

Cinta melakukan semua itu hanya untukmu
Sampai engkau berhasil menguak rahasia hatimu sendiri
Agar dalam pengertianmu itu
Engkau sanggup menjadi bagian dari kehidupan.

Jangan sekali kali engkau ijinkan ketakutan bersemayam di hatimu
Supaya engkau tidak memperbudak cinta hanya demi kesenangan.

Sebab memang akan jauh lebih mulia bagimu
Segera menutup aurat bugilmu dan meninggalkan altar pemujaan cinta
Memasuki alam yang tak mengenal musim.

Yang akan membuatmu bebas tersenyum, tertawa yang bukan bahak
Hingga engkaupun akan menangis, airmata yang bukan tangisan.

Cinta tak pernah menganugrahkan apapun kecuali wujudnya sendiri
Dan tidak sekali kali menuntut apa apa kecuali wujudnya sendiri pula.

Cinta tidak pernah menguasai dan tidak pernah dikuasai
Lantaran cinta terlahir hanya demi cinta.

Manakala engkau bercinta, jangan pernah engkau tuturkan
“Tuhan bersemayam di dalam lubuk hatiku”
Namun ucapkanlah
“Aku bersemayam di dalam lubuk hati Tuhan”.

Jangan pula engkau mengira bahwa engkau mampu menciptakan jalanmu sendiri
Sebab hanya dengan seijin cintalah jalanmu akan terkuak.

Cinta tidak pernah mengambisikan apapun kecuali pemuasan dirinya sendiri.

Tetapi bila engkau mencintai dan terpaksa mesti menyimpan hasrat
Maka jadikanlah hasratmu seperti ini:

Melumatkan dirimu dan menjelma anak anak sungai yang gemericik
Mengumandangkan tembang ke ranjang malam.

Memahami nyerinya rasa kelembutan
Berdarah oleh pandanganmu sendiri terhadap cinta
Menanggung luka dengan hati yang penuh tulus nan bahagia.

Bangkit dikala fajar dengan hati mengepakkan sayap sayap
Dan melambaikan rasa syukur untuk limpahan hari yang berbalur cinta
Merenungkan muara muara cinta sambil beristirahat di siang hari
Dan kembali dikala senja, dengan puja yang menyesaki rongga hati.

Lantas,
Engkaupun berangkat keperaduanmu dengan secarik doa
Yang disulurkan kepada sang tercinta di dalam hatimu
Yang diiringi seuntai irama pujian yang meriasi bibirmu.