Translate

Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

April 15, 2013

TELEPATI... Bahasa Antar Pikiran/Perasaan


Sebenarnya saya tidak begitu tertarik dengan topic ini namun teringat kata kata teman  saya jadi penasaran dan iseng2 nanya sama om google dan bongkar bongkar catatan kuliah dulu dan akhirnya kesampaian  menulis tentang hal yang satu ini :)  .. Masih teringat kata katanya dulu ‘sebenarnya kamu itu telah melakukan telepati kamu saja yang tidak menyadari’???? Humm… TELEPATI??? benarkah, iya kah??? :D

Secara awam telepati dapat diartikan ‘merasakan dalam jarak jauh’.  Ini termasuk dalam cabang utama  ilmu parapsikologi yang dijelaskan sebagai  metode transfer informasi tentang pikiran atau perasaan antara individu dengan cara lain diluar panca indera klasik .

Beberapa percobaan pernah dilakukan untuk menguji fenomena telepati . Yang paling terkenal adalah uji coba dengan menggunakan kartu Zener dan percobaan yang dinamakan Eksperimen Ganzfeld. (tapi saya tidak akan membeberkan mengenai kartu uji coba ini, rumit dan saya pun tidak begitu mengerti… ;) )

Pada dasarnya ketika masih bayi kita semua pernah melakukan telepati  namun seiring perkembangan usia kemampuan telepati menjadi berkurang karena kita lebih dominan menggunakan otak kiri daripada otak kanan. Pancaran sinyal telepati sebagaimana kita ketahui dilakukan oleh pikiran bawah sadar yang dikontrol melalui otak kanan, begitu pun si penerima pesan telepati diterima melalui otak kanan juga.



Walau secara ilmiah belum dapat di jelaskan tapi telepati memang ada dan dapat digunakan bahkan sering terjadi terutama pada mereka yang memiliki hubungan yang erat dan kuat… hanya saja tidak banyak dari kita yang menyadari akan hal tersebut.

Mungkin pernah kita merasa merindukan seseorang begitu dalamnya nah pada saat itu focus dan konsentrasi kita pada rasa rindu itu akan melibatkan jiwa dan raga termasuk emosi dan alam bawah sadar kita, dan pada saat itu kita ingin sekali mendengar kabar darinya? Dan tak lama kemudian dia yg kita pikirkan/rindukan memberi kabar.. ini sebenarnya contoh telepati sederhana ketika kita memikirnya kita mengirimkan sinyal telepati kepada orang tersebut dan dia dapat merasakan apa yg kita rasakan dan memberikan respon dengan memberi kabar.

Telepati  tidak hanya mengandalkan kekuatan gelombang pikiran melalui alam bawah sadar namun juga melibatkan fisiologis tubuh.  Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang menyampaikan sebuah pesan  telepatik kepada orang lain, terjadi perubahan fisiologis dalam diri pengirim, respon kulit galvanik atau GSR (merupakan detektor alamiah terhadap stres psikologis dalam diri seseorang) meningkat. Pada saat relaks, GSR-nya kembali menurun. Begitu pun si penerima pesan telepatik akan merespon secara fisiologis juga, penerima pesan juga mengalami kenaikan GSR. Saat pengirim pesan dalam kondisi relaks, secara otomatis, GSR penerima pesan juga ikut menurun. Padahal, penerima pesan tidak tahu apakah pengirim pesan sedang berkonsentrasi atau sedang relaks.

Intinya, karena sebenarnya setiap manusia memiliki kemampuan untuk ini sewaktu bayi  jadi siapa pun bisa melakukan telepati. Kuncinya adalah tingkatkan kemampuan otak kanan sebagai pusat intuitif dan imajinatif, konsentrasi dan focus untuk memperkuat gelombang pesan yg akan dikirim lewat alam bawah sadar… Bukan cuma mereka yang memiliki indra ke enam yang bisa. So, apakah anda tertarik untuk belajar dan melatih otak kanan untuk bisa bertelepati?? Silahkan mencoba (ada banyak literatur mengenai cara melatih telepati, saya sejujurnya tidak begitu berminat ;) )….

September 24, 2012

Self Defense Mechanism


…Tiba tiba berprilaku narsis, kepribadian ganda, penolakan terhadap kebenaran, berbohong untuk kebaikan, benci terhadap mantan, marah sebelum dimarahi, memaksakan humor saat terdesak, memukul pintu sampai jebol, berteriak-teriak dalam status Facebook berisi sumpah serapah…

Mungkin anda pernah mengalami hal hal tersebut, sadarkah anda apa yang anda perbuat itu adalah suatu mekanisme pertahanan diri atau dikenal sebgai self defense mechanism dalam psikologi.

Self Defence Mechanism ini merupakan sebuah disiplin dalam ilmu psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Tidak mesti seorang psikolog, Anda pun bisa mempelajari ini untuk memahami perilaku orang-orang di sekitar anda dan mencoba berempati saat mereka terpaksa melakukan ini.

Self Defence Mechanism sebagai  Alat Pelindung Psikis

Dalam ilmu psikologi Self Defence Mechanism merupakan proses mental dari pembohongan-diri untuk mengurangi pikiran yang mencemaskan, kenangan buruk atau keadaan yang mengancam ego seseorang.

Perasaan khawatir adalah insting normal terhadap adanya ancaman. Adrenalin meningkat, perasaan selalu siap siaga dan jantung yang berdebar sebenarnya insting untuk mempertahankan diri untuk survive. Namun kekhawatiran yang berkepanjangan akan menyebabkan tubuh lelah, meningkat menjadi cemas dan dapat menimbulkan stress. Dan stress ini pada akhirnya akan memicu munculnya penyakit psikosomatis.

June 7, 2012

Temper Tantrum

Pernahkah anda mendapati seorang anak, mungkin putra/puteri sendiri, anak tetangga, ataupun anak yang kita jumpai di suatu tempat yang tiba tiba saja berguling guling di lantai sambil menangis sekencang kencangnya ataukah mengamuk, memukul dan menendang karena keinginannya tidak dipenuhi. Dalam rentang waktu yang singkat dia menjadi anak yang liar, sulit dikendalikan dan didekati. Bagaimana respon anda melihat anak seperti itu?

Kejadian seperti itu merupakan suatu kejadian yang disebut sebagai Temper Tantrums yaitu  suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper Tantrum (untuk selanjutnya disebut sebagai Tantrum) seringkali muncul pada anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun.

Tantrum biasa terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:
·         Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
·         Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
·         Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
·         Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
·         Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
·         Sulit dialihkan perhatiannya.

May 31, 2012

Understanding of Depression

Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang dialami berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang, misalnya kematian seseorang yang sangat dicintai atau kehilangan pekerjaan yang sangat dibanggakan. 

Depresi adalah masalah yang bisa dialami oleh siapapun di dunia ini. Menurut sebuah penelitian di Amerika, 1 dari 20 orang di Amerika setiap tahun mengalami depresi, dan paling tidak 1 dari 5 orang pernah mengalami depresi sepanjang sejarah kehidupan mereka. 

Di Indonesia, banyak kasus depresi terjadi sebagai akibat dari krisis yang melanda beberapa tahun belakangan ini. Masalah PHK, sulitnya mencari pekerjaan, sulitnya mempertahankan pekerjaan dan krisis keuangan adalah masalah yang sekarang ini sangat umum menjadi pendorong timbulnya depresi di kalangan profesional.

Menurut seorang ilmuwan terkemuka yaitu Phillip L. Rice (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

October 12, 2011

Bagaimana Mengendalikan Amarah


Untuk kita renungkan bersama bahwa betapa dampak amarah itu sangat mempengaruhi kehidupan kita, bukan hanya diri sendiri tapi orang-orang di sekitar kita. Betapa penting bagi kita untuk belajar mengendalikan amarah. Simak cerita berikut ini.


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah …

July 12, 2011

The Butterfly Effect (Mungkinkah Mengubah Takdir)


Semalam, termenung sendiri dalam kamar saya berpikir apa yang dapat saya lakukan melewati malam ini, iseng saya mengambil external disk yang sudah lama mendekam dalam laci meja, niatnya sih buat merapikan membuang file2 yang sudah lama.
Ketika memulai memilah milih, terutama koleksi film di bawah tahun 2005 saya delete satu persatu. Saya tertegun ketika hendak menghapus sebuah film bergenre fiction. Lama saya tatap dalam dalam judulnya, jujur ini adalah film paling rumit yang pernah saya nonton sekaligus film terbaik menurut saya, karena pertama kali saya menonton film ini, saya dibuat kebingungan untuk mengerti jalan ceritanya.

“The Butterfly Effect” inilah film yang saya maksud, sebuah film yang di bintangi dan di produseri sendiri oleh Aston Kutcher. Film ini cukup sederhana, tanpa dramatisasi visual.
Berikut sedikit kutipan dari film ini; ...Bertemu kembali dengan Kayleigh, teman masa kecilnya yang begitu ia cintai yang memiliki kehidupan yang sangat suram dan berantakan, Evan bermaksud untuk merubah takdir kehidupan sang gadis pujaannya tersebut. Evan yang dianugerahi kemampuan untuk mampu kembali ke masa lalu dan melakukan berbagai hal yang pada akhirnya akan merubah takdir masa depan orang-orang yang terlibat pada kehidupannya itu. Sukses untuk kembali ke masa lalu (masa kanak-kanaknya) dan merubah masa lalu Kayleigh yang menjadi biang kehancuran masa depannya, lalu Evan kembali lagi ke masa depan hidupnya, dimana ia terkejut dengan perubahan yang terjadi. Evan dan Kayleigh menjadi sejoli mahasiswa yang borjuis dan berbahagia, tentunya Evan senang, namun tidak hingga ia melihat realita kehidupan kampus yang sesungguhnya, dimana ia kehilangan teman-teman dan lingkungan yang (pada kehidupan sebelumnya) begitu respek padanya. Evan galau, karena ternyata takdir tidak bisa begitu saja ia pilih dan ia rancang...

Bukan cerita dari film ini yang akan saya ceritakan tetapi kepada judul film ini sendiri yang sarat akan makna merupakan istilah untuk sebuah teori ilmiah yang menjadi latar dan pesan utama dari film ini, sebuah teori yang dikenal dengan “Teori Chaos”.

Dari wikipedia dijelaskan bahwa; Butterfly effect ( Efek Kupu-kupu ) ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. 


Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal dua maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.


Teori Chaos adalah teori yang berkenaan dengan sistem yang tidak teratur seperti awan, pohon, garis pantai, ombak dll : random, tidak teratur dan anarkis. Namun bila dilakukan pembagian (fraksi) atas bagian-bagian yang kecil, maka sistem yang besar yang tidak teratur ini didapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang teratur. Secara statistik: Chaos adalah kelakuan stokastik dari sistem yang deterministik. Sistem yang deterministik (sederhana, satu solusi) bila ditumpuk-tumpuk akan menjadi sistem yang stokastik (rumit, solusi banyak).


Sejarah teori Butterfly Effect
Edward Norton Lorenz menemukan efek kupu-kupu atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di Amerika Serikat dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. 

Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (...,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali.

Butterfly Effect dan De Javu
Lantas bagaimanakah kaitannya fenomena ilmiah ini dengan de javu? Dalam film Butterfly Effect, akhir dari cerita film tersebut menampilkan scene dimana Evan (Aston Kutcher) dan Kayleigh berpapasan di tengah jalan, dimana Evan sangat mengetahui bahwa perempuan yang ia lihatnya itu ialah Kayleigh, gadis teman kecilnya, yang hidup sebagai akibat dari metamorfosa takdir yang ia ciptakan, sedangkan Kayleigh hanya menatap tipis dan tertegun seraya meyakini itu hanya sebuah de javu. Adakah korelasinya?

July 5, 2011

Indahnya Kesepian

Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah merasa kesepian. Perbedaannya hanyalah kadarnya, lamanya, penyebabnya dan tentu saja penanganannya. Kebanyakan orang menghindari kesepian karena kesepian berkonotasi negatif, atau paling tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.



Banyak orang mempunyai account facebook dan twitter, untuk tetap terhubung satu sama lain, untuk bisa tahu apa yang tengah dilakukan temannya atau komunitasnya. BbM, YM, instant messenger menjadi sarana penghubung yang tak kenal cuaca, waktu (waktu kerja, waktu keluarga maupun waktu berdoa, bahkan - waktu tidur sekali pun). Memang tidak semua orang ber - account twitter dan facebook maupun melakukan online chat adalah orang-orang kesepian. Namun faktanya, hampir semua orang sepertinya ingin menyapa dan disapa, berkomentar dan dikomentari; ingin menjadi bagian dari komunitas. Mall, cafe dan resto makin ramai dikunjungi bukan sekedar untuk mengenyangkan perut, namun sebagai kesempatan untuk networking, reuni dan menyambung rasa. Keinginan untuk keep in touch  menjadi kebutuhan yang tidak ada hentinya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, namun persoalannya, ternyata banyak orang yang tetap merasa kesepian di tengah keramaian maupun di tengah tingginya frekuensi lalu lintas komunikasi via chatting online. Kesepian tidak dialami orang yang tinggal di puncak gunung atau desa terpencil, karena mereka yang hidup di kota besar yang padat penduduk dan hingar bingar hiburan pun ternyata lebih banyak yang merasa kesepian.


Perasaan Kesepian
Menurut definisi wikipedia, "Loneliness is an unpleasant feeling in which a person experiences a strong sense of emptiness and solitude resulting from inadequate levels of social relationships. However, it is a subjective experience.[1] Loneliness has also been described as social pain - a psychological mechanism meant to alert an individual of undesired isolation and motivate her/him to seek social connections.[2]

Perasaan kesepian memang sering di korelasikan dengan tiadanya teman dan kurangnya kasih sayang. Menurut James Park, seorang  filsuf beraliran eksistensialis mengatakan bahwa perasaan kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya cinta dan teman, namun karena sering disalahartikan dan tidak dipahami, maka segala jenis kesepian lantas diatasi dengan cara bersosialisasi, pacaran, menikah, dsb yang semua berkaitan dengan interpersonal relationship.


Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada uraian singkat mengenai penyebab kesepian yang ternyata bukan melulu urusan cinta.   


Penyebab Kesepian
Anak-anak, remaja, orang muda hingga manula, pernah mengalami rasa kesepian. Anak-anak merasa kesepian ketika ditinggal pergi orangtua mereka. Istri/suami yang kesepian karena kehilangan pasangan, akibat kematian atau perpisahan. Seorang gadis atau pemuda kesepian setelah putus dari pacar. Ibu yang kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar kota. Atau seseorang yang karena sakit harus tinggal di rumah atau di rumah sakit, terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Pindah rumah atau pindah sekolah bisa juga menyebabkan kesepian karena tercabut dari komunitasnya dan harus menghadapi komunitas baru.


Kesepian yang disebabkan perubahan sosial atau pun perubahan kondisi eksternal dikatakan bersifat temporer dan relatif lebih mudah diatasi. Sementara itu ada jenis kesepian lain yang disebutkan di atas, yakni merasa kesepian di tengah keramaian, berada di pesta, sedang berkumpul dengan teman, berada di tengah keluarga. Jadi dalam situasi dan lingkupan apapun, perasaan kesepian itu tetap ada. Inilah yang dikatakan existential loneliness. Seseorang yang mengalami eksistensial loneliness, tidak peduli sebanyak dan setinggi apapun frekuensi outing, dating dan chatting-nya, akan tetap merasa kesepian. Menurut artikel dari Associate Press, "quantity of contact does not translate into quality of contact".[3]



Existential Loneliness/kesepian eksistensial
Kesepian eksistensial kerap menjadi sesuatu yang bersifat kronis karena sudah terjadi dalam jangka waktu lama tanpa disadari atau memang sengaja diabaikan. Artinya, perasaan kesepian itu disadari namun tidak ditindaklanjuti karena berpikir perasaan itu disebabkan karena faktor lingkungan.


Kesepian yang bersifat kronis ini menimbulkan perasaan hampa yang menyedihkan, sehingga banyak yang tidak tahan dan mengalami depresi. Kehampaan yang bersumber dari dalam jiwa ini terjadi karena sebab yang bermacam-macam, bisa karena hidup tanpa arah dan tujuan, sehingga dari hari ke hari seperti robot, hanya mengikuti irama rutinitas. Ada yang belum menemukan makna, karena hidupnya sangat terbatas, bukan miskin - tapi terlalu steril, flat, datar karena terlalu takut mengambil resiko sehingga tidak berani mengarungi kesempatan dan kemungkinan. Ada pula yang merasa kosong, karena tidak menemukan hal baik dan positif dari dirinya, sehingga tidak tahu apa gunanya dia dilahirkan, apa gunanya kehidupan ini dan apa gunanya ia bagi orang lain.



Ada yang berusaha menghilangkan rasa sepi, hampa dan kosong dengan bergaul sebanyak dan sesering mungkin. Ada pula yang mencari cinta, karena dipikirnya, cinta seseorang akan melengkapi kekosongan jiwa. Secara filosofis dan psikologis, kehampaan jiwa tidak mungkin diatasi dengan menanam cinta/import cinta dari luar, dan hal ini menurut para filsuf adalah tindakan ilusi yang "tidak nyambung". Maka, ganti pasangan, mencari cinta baru yang dianggap dan diharapkan bisa mengatasi kekosongan - adalah tindakan mustahil.  Karena solusinya tidak bisa dengan menambal kehampaan dari luar. Pertumbuhan itu harus dari dalam.

May 19, 2011

Antara Optimis & Berharap

Harapan dan optimis, menurut sebagian dari kita sebagai dua tema yang sama, atau bisa saling menggantikan. Dan mungkin diantara kita ada pula yang menganggap bahwa harapan adalah bagian dari optimis atau sebaliknya.


Jadilah orang yang optimis, jangan pesimis, apakah ini berarti orang yang optimis memiliki harapan? Atau optimis itu sendiri berarti harapan, atau sebaliknya, orang yang memiliki harapan berarti optimis?

Berbicara mengenai optimis sudah pasti mengikutkan tema lain yang selalu menyertainya bak saudara kembar, yaitu pesimis. Akan tetapi, ketika kita menyinggung mengenai harapan, pesimis tidak selalu mengikuti. Kehadiran tema pesimis selalu menjadi oposisi penegas dalam kajian mengenai optimis. 

Harapan


Hope is the sum of the mental willpower and way power that you have for your goal (Snyder, 1994)


Tiga elemen mental dasar dalam harapan, yaitu (1) tujuan (goal), (2) keinginan kuat (willpower), (3) jalan keluar (way power).

Goal is any objects, experiences or outcomes that we imagine and desire in our minds (Snyder, 1994)

Memiliki harapan berarti memiliki goal untuk diraih, dicapai, didapatkan. Tujuan inilah sebagai komponen penting utama dalam sebuah harapan. 

Tujuan tersebut memiliki pergerakan dinamis dalam rentang yang luas mulai dari tidak  mungkin hingga pasti. Langkah selanjutnya, bagaimana menyempitkan dan menajamkan rentang ini?

Yang kita butuhkan adalah memfokuskan perhatian diri terhadap satu tujuan utama, jadikan tujuan itu sebagai sesuatu yang penting dan bermakna besar  dan patrikan tujuan itu sebagai harapan diri. Ketika kita telah mengukuhkan tujuan itu di tempat yang istimewa, elemen mental dasar lainlah yang selanjutnya mengambil alih. Kita melangkah ke willpower sebelum selanjutnya ke way power.

Willpower is the driving force in helpful thinking (Snyder, 1994)

Seberapa kuat keinginan diri kita untuk mewujudkan tujuan lah yang selanjutnya akan berbicara. Sebuah kotak mental dalam diri kita yang memuat keteguhan dan komitmen yang akan menolong kita untuk bergerak dengan arah efektif guna mewujudkan tujuan yang telah kita tentukan di awal.

Kita akan lebih mudah menggerakkan willpower  ini apabila dalam alam kognitif kita mampu membayangkan, memahami secara jelas dan menghadirkan tujuan penting tersebut. Willpower merepresentasikan kemampuan kognitif kita dalam menghasilkan inisiatif dan aktivitas yang berkesinambungan dalam meraih tujuan.  

Pengalaman kesuksesan di masa lalu memang salah satu dasar kuat dalam mental dasar ini, namun hal ini bukanlah kartu mati untuk memulai.

Way power reflects the mental plans or road maps that guide hopeful thought (Snyder, 1994)

Tidak hanya keinginan mewujudkan tujuan/keinginan, namun bagaimana mencapainya juga tidak bisa ditinggalkan. Way power sebagai kemampuan mental untuk menemukan dan menciptakan jalan yang efektif.

May 18, 2011

Bila Anak Terlambat Bicara

Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh. 

Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dan dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya. 


Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan. 


Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. 

Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya. 

BILA ANAK TERLAMBAT BICARA
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. 

Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.  Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara  dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis.





Adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti: 

1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga. 

2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu. 

3. Masalah keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi. 

4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. 

Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

5. Faktor Televisi
Anak batita yang banyak nonton TV cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya
menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). 

April 25, 2011

Awas Ancaman Brainwash!!!

Mungkin masih jelas dalam ingatan kita kasus yang menimpa seorang pegawai negeri sipil di Jakarta yang menghilang dan beberapa hari kemudian ditemukan di sebuah mesjid di bogor dalam keadaan linglung dan tidak tahu identitasnya.

Atau juga maraknya aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang yang dikenal baik dalam lingkungannya. Mengapa mereka mau melakukannya? Mengorbankan nyawa sia-sia untuk sesuatu yang sia-sia pula? Tidakkah ada dalang di balik semua peristiwa tersebut?

Hanya orang-orang yang telah dicuci otaknya yang bisa melakukan hal-hal di luar nalar kewajaran kita. Rela berkerban harta benda bahkan nyawa untuk kepentingan sekelompok orang.

Ancaman Brainwash
Dari Wikipedia dijelaskan bahwa brainwash adalah serangkaian proses yang sistematik yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok, dengan metode yang barangkali tidak etis atau manipulatif, untuk merayu  pihak lain supaya berjuang mewujudkan  keinginan tertentu walaupun harus dengan cara yang menghancurkan pihak yang di-brainwash itu. 

Dalam  proses brainwash, aktivitas yang terjadi antara lain: mengontrol pikiran, mencuci otak, mengkonstruksi ulang pemahaman seseorang, merayu seseorang dengan agak memaksa, menginstall pikiran seseorang dengan  ideologi, fakta atau data, dan penjelasan yang sangat intens.  

Meski awalnya teknik  ini dipakai di dunia militer atau politik dalam mempertahankan  regime, tapi pada perjalanannya, wilayah aplikasinya meluas. 

Banyak temuan yang berhasil mengungkap bahwa di balik aksi kekerasan yang selama ini mengancam  kita, misalnya aksi bom bunuh diri dan lain-lain, terdapat keberhasilan proses brainwash yang dilakukan seseorang kepada pihak lain.

 Keberhasilan brainwash memang sifatnya tidak instant. Ada upaya sistematik dalam memformulasi cerita atau pemahaman baru dari sebuah kenyataan yang disuguhkan kepada orang dengan ciri-ciri internal (profil psikologis) tertentu sehinga sangat match antara  pemicu eksternal dan penentu  internal. 

Dilihat dari karakteristik eksternal yang umum, negara kita termasuk tempat yang tidak sulit-sulit amat untuk melakukan aksi brainwash kepada pemuda untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang banyak. Dari mulai bom bunuh diri, kerusuhan massal, sampai demo anarkis memprotes suatu hasil atau keputusan.

 Karakteristik eksternal itu misalnya wajah ketidakadilan sosial, penindasan, kesenjangan ekonomi, taraf pendidikan rata-rata penduduk, rendahnya kepercayaan pada pemerintah, wilayah gerak yang sangat luas, perbedaan agama, suku, ras, dan lain-lain. Ini belum lagi ditambah dengan semakin sungkannya pemerintah kita dengan isu HAM dan demokrasi. 

 Ini semua perlu dijadikan catatan bagi pemuda, orangtua, dan pemerintah. Pemuda perlu mewaspadai berbagai perangkap brainwash. Orangtua juga perlu memonitor kiprah anaknya di luar. Demikian juga pemeritah yang perlu terus   mengurangi alasan-alasan kenapa bangsa ini mudah di-brainwash untuk menyerang tanah airnya sendiri
  
Mengenali Tabiat Brainwasher
Selain pertanda di muka, aktivitas brainwash juga bisa dikenali dari tabiat dan gelagat orang-orangnya. Yang pertama-tama dilakukan para brainwasher adalah merubuhkan  konstruksi jatidiri, pemahaman, dan hubungan sosial korbannya, seperti rumah tua yang dirobohkan untuk rencana pembangunan gedung baru.

Tentu ada banyak cara bagaimana proses rekonstruksi itu dilaksanakan. Misalnya antara lain dengan mengeksploitasi berbagai kelemahan, kesalahan, kebodohan, dan ketidakberdayaan korban atau hal-hal negatif lainnya. 

Misalnya saya ingin mem-brainwash orang dari alasan agama, maka yang akan saya lakukan adalah membuktikan betapa banyaknya dosa orang itu, betapa sesatnya dia, dan seterusnya. 

Dengan asumsi bahwa orang itu sudah sering menangis di depan saya, meminta hidayah dari saya, atau pendeknya sudah powerlessfull, maka saya mulai melakukan penawaran, seperti ahli bangunan yang menawarkan rancangan konstruksinya ke calon klien.

April 11, 2011

Mewujudkan Diri Terdalam

Shadow

Tahap pertama dalam mewujudkan diri terdalam adalah menemui shadow. Shadow berarti bayangan dan bila kita melihat bayangan warnanya pasti gelap dan tidak jelas. 

Shadow ini adalah sisi gelap dari psike kita yang sering kali disembunyikan atau dihambat perkembangannya. Shadow adalah sisi kepribadia kita yang negative dan sering kali ditolak dalam kepribadian kita.

Shadow sering dianggap membahayakan ego. Dalam mimpi, shadow muncul dalam tokoh “jahat” yang sejenis kelamin dengan orang yang bermimpi, seperti sauara perempuan atau laki-laki, teman akrab, atau orang yang asing buat kita. 

Penting untuk diingat bahwa shadow memang ngatif, tetapi ia adalah bagian dari kepribadian kita entah ditolak atau diterima.


Anima dan Animus

Tahap kedua dalam mnemukan diri adalah menemui anima dan animus. Dalam bahasa latin akhiran “-a” digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin feminim dan akhiran “-us” digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin maskulin. Akhiran itu berlaku juga untuk anima dan animus. 

Anima adalah jiwa perempuan yang ada dalam pada seorang pria dan animus adalah jiwa laki-laki yang ada dalam seorang perempuan. Jadi, sifatnya adalah kontraseksual. 

Dalam masyarakat, kita sering kali mendengar cirri-ciri yang dilekatkan pada seorang wanita maupun pria. Anima bercirikan lemah lembut, manja, sabar, penyayang, menerima, dekat dengan alam, atau mudah memaafkan; sementara animus bercirikan tegas, senang mengontrol, argumentative, bertanggung jawab, atau memiliki semangat juang.

Anima dan animus ini juga mendiami ketidaksadaran kolektif kita. Setiap laki-lakimempunyai komponen feminism dan setiap perempuan mempunyai komponen maskulin. 

March 5, 2011

Post Traumatic Stress Disorder

Kejadian  dan  musibah  tak terduga kerap kali datang menghampiri kita tanpa kita dapat prediksi dan tidak siap menghadapinya. Peristiwa  demi peristiwa ini dapat meninggalkan trauma yang mendalam dan berkepanjangan yang selalu menghantui kita. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda ketika dihadapkan pada situasi dan peristiwa traumatik. 

Pada beberapa orang, peristiwa traumatik membuatnya menjadi trauma, ia tidak mampu menjalankan kesehariannya seperti biasa (sebelum peristiwa tersebut terjadi), bayangan akan peristiwa tersebut senantiasa kembali dalam ingatannya dan mengusiknya,  ia juga merasa tak mampu mengatasinya. Mereka yang mengalami hal demikian mungkin mengalami apa yang disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Post-traumatic stress disorder (PTSD) can affect those who personally experience the catastrophe, those who witness it, and those who pick up the pieces afterwards, including emergency workers and law enforcement officers. It can even occur in the friends or family members of those who went through the actual trauma (Smith & Segal. 2008).

Post-traumatic stress disorder dapat mempengaruhi mereka yang secara pribadi mengalami bencana atau musibah besar, mereka yang menjadi saksi atas kejadian tersebut, dan mereka yang membantu dalam kejadian tersebut, termasuk pekerja sosial dan petugas keamanan. Bahkan hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma (Smith & Segal. 2008). 


Berbagai sumber mendefinisikan Post Traumatic Stress Disorder sebagai berikut:

Post Traumatic Stress Disorder is an anxiety disorder that can develop after exposure to a terrifying event or ordeal in which grave physical harm occurred or was threatened (American Psychological Association, 2004)

Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam (American Psychological Association, 2004).   

 Post-traumatic stress disorder (PTSD) is a disorder that can develop following a traumatic event that threatens your safety or makes you feel helpless (Smith & Segal, 2008). 

Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah gangguan yang dapat terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan anda atau membuat anda merasa tidak berdaya (Smith & Segal, 2008). 

Peristiwa yang dikategorikan sebagai peristiwa traumatik 

Peristiwa traumatik pada umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut (Jaffe, Segal, & Dumke, 2005): 
  1.  Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected)
  2. Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi / kejadian demikian (The person was unprepared)
  3.  Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening)
... any overwhelming life experience can trigger PTSD, especially if the event is perceived as unpredictable and uncontrollable (Smith & Segal. 2008).

... pengalaman hidup apapun yang terlalu "mengguncang" dapat memicu PTSD, terutama jika peristiwa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang tidak dapat diduga dan dikendalikan / dikontrol (Smith & Segal. 2008).