Translate

Showing posts with label Etnik Bugis. Show all posts
Showing posts with label Etnik Bugis. Show all posts

April 19, 2011

Perjanjian Tellumpocco'E

La Tenri Rawe BongkangE menggantikan ayahnya La Uliyo Bote’E menjadi Arumpone. La Tenri Rawe kawin dengan We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE anak dari La Maddussila dengan isterinya We Tenri Lekke.
 
Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri Rawe sangat dicintai oleh orang banyak karena memiliki sifat-sifat seperti ; berbudi pekerti yang baik, jujur, dermawan, adil dan sangat bijaksana. Dia tidak membedakan antara keluarganya yang memiliki turunan bangsawan dengan keluarganya dari orang biasa.

Sebagai Arumpone, La Tenri Rawe yang pertamalah membagi tugas-tugas (makkajennangeng) seperti: yang bertugas mengurus jowa (pengawal), yang bertugas mengurus anak bangsawan dan yang mengurus wanuwa.

Ketika menjadi Arumpone La Tenri Rawe BongkangE pernah bertentangan dengan Datu Luwu yang bernama Sagariya karena orang Luwu naik lagi ke Cenrana. Maka wanuwa Cenrana telah dua kali direbut dengan kekuatan senjata (riala bessi) oleh orang Bone.

Untuk memperkuat kedudukan Bone sebagai suatu kerajaan yang tangguh, La Tenri Rawe menjalin hubungan kerja sama dengan Arung Matowa Wajo yang bernama To Uddamang. Begitu juga dengan Datu Soppeng yang bernama PollipuE. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk memperkuat hubungan antara Bone, Soppeng dan Wajo.

Adapun kesepakatan yang diambil di Cenrana adalah ketiganya akan mengadakan pertemuan lanjutan di Timurung. Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan, maka berkumpullah orang Bone, orang Soppeng dan orang Wajo di suatu tempat yang bernama Bunne. Ketiganya mengucapkan ikrar,

”Tessiabiccukeng – Tessiacinnai ulaweng tasa – Pattola malampe waramparang maega” (tidak saling memandang rendah – tidak saling iri hati – saling mengakui kepemilikan). Setelah itu barulah ketiganya mallamumpatu (meneggelamkan batu) sebagai tanda kuatnya perjanjian tersebut, sehingga disebutlah – LamumpatuE ri Timurung.”

Inilah catatan yang menjelaskan TellumpoccoE (Bone – Soppeng – Wajo) yang terkandung dalam perjanjian yang diadakan oleh La Tenri Rawe BongkangE (Bone), To Uddamang (Wajo) dan La Mata Esso (Soppeng).

Ketika sampai pada hari yang telah disepakati, bertemulah di Timurung. Datanglah Arumpone, diikuti oleh seluruh Palili Bone. Datang juga Arung Matowa Wajo yang bernama La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kanana. Selanjutnya datang juga Datu Soppeng yang bernama La Mappaleppe PatolaE Arung Belo MatinroE ri Tanana. Diikuti pula oleh seluruh Palili Soppeng dan Wajo.

Pertemuan tiga kerajaan yang lebih dikenal dengan nama Pertemuan TellumpoccoE tersebut diadakan di Timurung di suatu kampung kecil yang bernama Bunne.

March 3, 2011

Adat Mendirikan Rumah ala Bugis

Rumah bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain ( Sumatera dan Kalimantan ). Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tambahan pada samping bangunan utama dan bagian depan [ orang bugis menyebutnya lego - lego ].

Rumah bugis dahulu
Menurut adat istiadat yang berlaku pada suku bugis, strata sosial seseorang dapat dilihat dari atap rumahnya. Pada umumnya atap rumah adat bugis berbentuk prisma, nah bentuk atap ini, tepatnya pada tutup bubungan (timpa’ laja) terdiri dari berbagai model  yang mencirikan strata sosial seseorang.

Jenis-jenis rumah bugis jaman dahulu;
  • Salassa’ atau Saoraja. Salassa’ hanya ditempati oleh arung (raja) yang memimpin pemerintahan dan lazim juga dise-but Saoraja. Saoraja dapat pula ditempati oleh Bangsawan dan/atau keturunan raja yang terdekat.
  • Salassa Baringeng (lantainya rata). Salassa Baringeng (lantainya rata) yang ditempati oleh bangsawan yang disebut Anak Cera Ciceng.
  • Rumah tiga petak (lantainya bertingkat) memakai tamping tassoddo’. Rumah tiga petak (lantai bertingkat) yang ditempati oleh mereka yang disebut ata simana (ata yang tidak dapat berpisah dengan raja/bangsawan dan mereka ini berhak menda-pat warisan baik materil maupun inmateril, antara lain kedudukan.
  • Rumah dua petak. Rumah dua petak (Tellukkaarateng) ditempati oleh rakyat biasa termasuk: Ata mana (hamba yang dibeli atau yang dikalahkan dalam judi atau dalam perang), Ata Passaromase (hamba karena mencari kehidupan, lalu meng-hambakan diri).

Adapun timpa’ laja yang masih dipergunakan sekarang sebagai salah satu pembeda antara rumah bangsawan dan masyarakat biasa, dan jenis-jenisnya adalah;
  1.  Salassa’ tidak terbatas banyaknya tingkatan Timpa’ Laja’nya.
  2.  Salassa Baringeng, hanya tiga tingkatan timpa’ laja’nya.
  3.  Rumah tiga petak, dua tingkatan timpa’ laja’nya.
  4.  Rumah rakyat, tidak bertingkat timpa’laja’nya.
Namun pada jaman sekarang mungkin kita hanya akan menjumpai dua jenis rumah panggung bugis, yaitu Salassa dan Saoraja untuk kaum bangsawan dan bala (rumah panggung biasa) untuk masyarakat pada umumnya, tanpa mengikat pada suatu model dan ukuran tertentu. Besar kecil dan model rumah tergantung pada tingkat social dalam artian tingkat kesejahteraan seseorang.

February 20, 2011

Epos La Galigo "Mahakarya Suku Bugis"

Apakah anda orang bugis asli atau sekedar dilahirkan di tanah bugis atau  juga karena orang tua yang berdarah  bugis. Jika anda merasa asli bugis anda pasti tahu tentang epos La Galigo, yakin anda tahu???


Nama ini sangat popular di kalangan orang tua dahulu, bagi sebagian besar anak bugis jaman sekarang mungkin hanya pernah mendengar tentang La Galigo tapi tidak mengerti apa itu. Orang tua dahulu dan sebagian peneliti dan pencinta sastra amat sangat mengetahui dan tertarik pada sosok yang satu ini. Meskipun lama tersembunyi dalam peti sejarah namun ialah warisan besar dunia, mahakarya orang bugis. 

La Galigo merupakan epos dari salah satu suku di Indonesia, yaitu suku Bugis yang tidak kalah hebatnya dari epos Mahabarata dan Ramayana dari India. Dan konon, inilah epos terpanjang di dunia. Sinopsisnya saja berukuran 2851 halaman folio. Menurut cerita, naskah aslinya mencapai 300 ribu baris. Coba bayangkan, enam kali lebih tebak dari buku Harry Potter seri ketujuh yang berjumlah 1008 halaman.

Epos La Galigo di duga kuat lebih tua dan ditulis sebelum epos Mahabarata, ditulis antara abad  ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.

Kisah La Galigo yang Unik
Secara umum, kisah La Galigo terbagi dalam dua bagian, bagian pertama berkisah mengenai penciptaan langit dan bumi, asal usul kehadiran manusia, dan nenek moyang raja-raja Bugis. 


Bagian pertama ini dianggap sangat sakral, sehingga tidak sembarang orang boleh membacanya. Hanya kaum bangsawan saja yang diperkenankan  membaca dan menyimpan naskah  ini. Karena itu tidak mengherankan  kalau tidak banyak yang bisa kita ketahui mengenai bagian pertama ini. ini.

“Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge' langi' kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili'timo', anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu', sebuah daerah di Luwu', sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.”

“Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu'. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Cina, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Cina, ia menikah dengan puteri Datu Cina, yaitu We Cudai.”


Adapun bagian kedua berkisah mengenai tokoh  utama, sang raja Sawerigading dan putranya I La Galigo. Kedua tokoh ini sangat unik. 

Mengapa saya katakana  sangat unik karena berbeda dengan epos dan kisah kepahlawanan lainnya dimana sang tokoh utama (sang pahlawan) adalah orang yang arif, bijaksana, welas asih, dan setia menjunjung tinggi kebenaran. Sementara dalam  epos La Galigo karakter ini tidak akan kita temukan. Justru yang disuguhkan adalah  seorang tokoh yang digambarkan nakal, manja, dan keras kepala.

Disinilah uniknya La Galigo, Gambaran tentang ketidak sempurnaan tokoh-tokohnya inilah yang membuat banyak peneliti tertarik dan jatuh cinta. Dari kisah La Galigo secara tidak langsung memberikan pelajaran kepada kita bahwa setinggi apapun status kebangsawanan, status social seseorang ia tetaplah seorang manusia biasa yang memiliki kelemahan, kekurangan dan keterbatasan.

February 2, 2011

Cerita tentang Asal Kata "Bugis"

Suku bugis yang mendiami sebagian besar wilayah di Sulawesi Selatan, terkenal sebagai suku perantau. Konon cerita mereka tersebar di berbagai pulau di Indonesia bahkan sampai di negeri jiran Malaysia, Singapura, Filipina, bahkan sampai wilayah Afrika, yaitu Madagaskar. Nah, tahu kah anda bagaimana cerita tentang nama bugis, bagaimana dan darimana asal mulanya.


Kata “Bugis” konon berasal dari nama La Sattumpugi

Penamaan ‘ugi’ merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Tiongkok, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi.

Suku Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero-melayu, atau Melayu muda. masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata ‘Bugis’ berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang bugis.

Menurut cerita orang tua dulu, ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.


Silsilah La Galigo
Sawerigading adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. 

Adapun daerah  peralihan antara Bugis dan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.

Oleh karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi Birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad 16,17,18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama didaerah pesisir. Komunitas Bugis hampir selalu dapat ditemui di daerah pesisir di nusantara bahkan sampai ke Malaysia, Filipina, Brunei dan Thailand. Budaya perantau yang dimiliki orang Bugis didorong oleh keinginan akan kemerdekaan.

Adapun cerita mengenai La Galigo dan dimana sebenarnya keberadaan kerajaan Cina akan  saya posting kemudian.



Dikutip dari berbagai sumber…

January 31, 2011

Sejarah Awal Etnik Bugis

Mencoba sesuatu yang baru atau berbeda dari biasanya. Saya akan mengulas sedikit demi sedikit sejarah etnik Bugis, asli kesukuan saya. Membahas suatu sejarah di masa lampau memang sulit, minimnya informasi dan literature adalah salah satu kendala. Cerita dari nenek moyang dan orang tua dulu tidaklah salah untuk di dengarkan dan coba saya rangkum dalam tulisan-tulisan saya mengenai etnik Bugis.


Hal pertama adalah mengenai sejarah kemunculan suku Bugis, setidaknya tentang hal ini ada  referensi yang cukup akurat. Yaitu buku "The Bugis" karangan Christian Pelras.

Berbeda dengan sebagian besar daerah dan kesukuan di beberapa Negara Asia Tenggara , suku Bugis tidak banyak menerima pengaruh India di dalam kebudayaan mereka. Satu-satunya pengaruh India yang jelas adalah tulisan Lontara yang berdasarkan skrip Brahmi, yang di perkirakan dibawa melalui jalur perdagangan. Minimnya pengaruh dari India, tidak seperti di Jawa dan Sumatra, mungkin disebabkan oleh komuniti awal ketika itu kuat menentang asimilasi budaya luar.

Perubahan Dari Zaman Logam

Permulaan sejarah Bugis lebih kepada mitos dari sejarah lojik. Di dalam teks La Galigo, populasi awal terletak di persisiran pantai dan tebing sungai dan penempatan ini dihubungi dengan pengangkutan air. Penempatan di tanah tinggi pula didiami oleh orang Toraja.

Penempatan-penempatan ini bergantung kepada salah satu daripada tiga pemerintahan yaitu Wewang Nriwuk, Luwu' dan Tompoktikka. Walaubagaimanapun, pada abad ke 15, terdapat kemungkinan penempatan awal tersebar di seluruh Tana Ugi, malahan jauh ketengah hutan dimana tidak dapat dihubungi melalui pengangkutan air. Mengikut mitos, terdapat migrasi yang ingin mencari tanah baru untuk didiami. Implikasi penempatan ditengah-tengah hutan ini ialah perubahan fizikal hutan, dimana hutan-hutan ditebang dan proses diteruskan sehingga abad ke20.

Teknik Dan Perbedaan Ekonomi

Penebangan hutan ini mungkin seiring dengan pembuatan besi untuk membuat alat-alat tertentu seperti kapak. Malahan, pemerintah pertama (mengikut sejarah) kerajaan Bone memakai gelaran 'Panre Bessi' atau 'Tukang Besi'. Selain itu, terdapat juga hubungan yang cukup rapat diantara pemerintah Sidenreng dengan penduduk kampung Massepe, tempat penumpuan pembuatan peralatan besi oleh orang Bugis dan tempat suci dimana 'Panre Baka' ('Tukang Besi Pertama') turun dari Syurga/Langit. Meskipun sebagaian meyakini bahwa  'Panre Baka' berasal dari Toraja.

Satu lagi inovasi yang diperkenalkan yaitu penggunaan kuda. Walaupun tidak disebut di dalam teks La Galigo, menurut sumber Portugis, pada abad ke16, terdapat banyak penggunaan kuda di kawasan gunung. Hal ini mungkin diperkenalkan antara abad ke 13 dan abad ke 16. Maksud kuda di dalam Bahasa Bugis , ialah 'anyarang' (Makassar: jarang), cukup berbeda dengan Bahasa Melayu, malah diambil dari bahasa Jawa ( 'jaran' ). Perkataan ini mungkin digunakan pada abad ke14, ketika Jawa diperintah oleh Majapahit.

Pertambahan penduduk memberi kesan kepada teknik penanaman padi. Teknik potong dan bakar digantikan dengan teknik penanaman padi sawah. Teknik Penanaman padi sawah ini (plough) di dalam Bahasa Bugis ialah 'rakalla' berasal dari perkataan 'langala' yang digunakan hampir seluruh Asia Tenggara, contohnya Cam, 'langal', Khmer, angal dan Bahasa Melayu, tengala.
Teknik 'rakalla' ini digunakan di India dan sebahagian Asia Tenggara, Dimana sebahagian lagi wilayah Asia Tenggara diambil dari China. Ini sekaligus membuktikan adanya hubungan antara Sulawesi Selatan dengan bahagian barat Asia Tenggara selain Jawa.

Perubahan di dalam bidang ekonomi berhubungan erat  dengan pertambahan penduduk di tangah-tengah benua. Pada mulanya, sumber ekonomi mayoritas populasi Bugis ialah bertaman padi. Ketika bangsa terpelajar  mulai merambah sumber-sumber daya alam dari hutan, laut. Pada saat inilah mulai terjadi system barter dimana populasi bugis dapat menjual hasil panen padi mereka dan menukarnya dengan barang-barang mewah dari luar seperti keramik China, Sutera India, cermin dll.

Perubahan Sosio-Politik

Implikasi terakhir dari penyebaran etnik Bugis keseluruh Sulawesi Selatan ialah perubahan didalam politik. Kerajaan-kerajaan lama Bugis yaitu Luwu', Sidenreng, Soppeng dan Cina (kemudiannya menjadi Pammana) masih berkuasa tetapi mungkin terdapat pembaharuan didalam pemerintahan  ataupun pertukaran dinasti.

Kerajaan-kerajaan kecil bermunculan  di tempat tempat yang ( 'wanua' ) dan diperintah oleh seorang ketua yang digelari 'matoa' atau 'arung'. Kerajaan ini (tidak disebut didalam La Galigo) antara lain Bone, Wajo dan Goa yang kemudian muncul sebagai kerajaan-kerajaan utama.

Meskipun sebagian kerajaan yang disebut di dalam teks La Galigo seperti Wewang Nriwu' dan Tompoktikka 'hilang' di dalam catatan sejarah, dan memunculkan polemic bahwa sebenarnya kerajaan-kerajaan tersebut memang tidak pernah ada.

Perubahan Agama

Kesinambungan dari zaman logam berlanjut dalam bidang  keagamaan. Bissu (bomoh) kekal menjadi elemen penting di dalam hal-hal keagamaan sebelum kedatangan Islam. Perubahan di dalam bidang keagamaan adalah pembakaran mayat dan debu bagi orang-orang terpenting di simpan di dalam tempat penyimpanan debu (berbentuks seperti  labu) dan  tempat pembakaran mayat disebut Patunuang.

Menurut sumber Portugis, Makassar mengekalkan teknik penanaman mayat dan Toraja sampai saat ini masih menyimpan dan meletakkan mayat di gua-gua. Menurut sumber-sumber terdahulu, Mayat-mayat pemerintah pada masa awal di biarkan bersandar di tahtanya higga tinggal tulang belulang, dan mereka meyakini arwah mereka kembali ke surga. Sementara mayat bayi di tenggelamkan ke laut.

Kerajaan-Kerajaan Awal Bugis

Di akhir abad ke 15, Luwu', yang dianggap sebagai yang tertua dalam komunitas Bugis, mendominasi kebanyakkan kawasan di Tana Ugi termasuklah tebing Tasik Besar, sepanjang sungai Welennae, tanah pertanian di sebelah timur, sepanjang pesisir pantai yang menghadap Teluk Bone, Semenanjung Bira, Pulau Selayar dan Tanjung Bantaeng. 
 

Aksara Bugis