Translate

July 20, 2011

Musik dan Kekasih


An-Nabdah Fi Fann al-Musiqa
Musik-musik semesta; part 02#


Pada suatu ketika, aku pernah duduk berdampingan dengan seorang perempuan dan dia adalah kekasihku. Aku sangat mencintainya dengan sepenuh jiwa. 


Aku duduk di sampingnya sambil mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Aku meyimak perkataannya sambil memperhatikan dua kelopak bibirnya.


Saat mendengarkan kata-katanya, aku merasakan kekuatan dahsyat dalam suaranya. Kekuatan itu membuat hati bergetar bagai tersengat aliran listrik.


Kekuatan itulah yang membuat jiwaku melayang dan berenang di luas bentang cakrawala yang tak terbatas.
Jiwaku yang melayang, melihat alam raya tampak seperti mimpi. Jiwaku yang melayang, melihat rongga jasad tampak seperti penjara sempit.


Suara perempuan itu seolah menyimpan daya magis yang menyihir segenap perasaan. Aku terhipnotis hingga tak kuasa menggerakkan lidah untuk berucap. 


Sebab yang terdengar hanyalah kata-kata kekasihku itu. Bagiku seperti itulah kiranya alunan nada musik.


Ketika dia mendesah saat mengulang beberapa ucapan sambil sesekali tersenyum, di situlah alunan musik terdengar.
Suara desahan saat ia bercerita dengan kata terputus-putus, atau saat dia berkat dengan kalimat yang sempurna dan panjang, itulah alunan nada musik.


Demikian pula suara desahan yang kudengar, saat ia berbicara dengan beberapa kata, kemudian berhenti sejenak untuk menarik nafas, dengan menyisakan kata-kata sambungnya di ujung kedua bibirnya yang tipis indah.


Saat itu aku benar-benar  melihat isi hatinya, dengan mata telingaku. Isi hatinya membuaku lupa aka nisi pembicaraanya.  Bagiku, perasaan hatinya yang menyatu dengan alunan nada music adalahsuara jiwa.


Ya, musik memang suara jiwa. Nada-nada yang terlontar dari music adalah hembusan lembut angin gurun yang menggetarkan senar dawai cinta.

No comments:

Post a Comment