Translate

January 31, 2011

Sejarah Awal Etnik Bugis

Mencoba sesuatu yang baru atau berbeda dari biasanya. Saya akan mengulas sedikit demi sedikit sejarah etnik Bugis, asli kesukuan saya. Membahas suatu sejarah di masa lampau memang sulit, minimnya informasi dan literature adalah salah satu kendala. Cerita dari nenek moyang dan orang tua dulu tidaklah salah untuk di dengarkan dan coba saya rangkum dalam tulisan-tulisan saya mengenai etnik Bugis.


Hal pertama adalah mengenai sejarah kemunculan suku Bugis, setidaknya tentang hal ini ada  referensi yang cukup akurat. Yaitu buku "The Bugis" karangan Christian Pelras.

Berbeda dengan sebagian besar daerah dan kesukuan di beberapa Negara Asia Tenggara , suku Bugis tidak banyak menerima pengaruh India di dalam kebudayaan mereka. Satu-satunya pengaruh India yang jelas adalah tulisan Lontara yang berdasarkan skrip Brahmi, yang di perkirakan dibawa melalui jalur perdagangan. Minimnya pengaruh dari India, tidak seperti di Jawa dan Sumatra, mungkin disebabkan oleh komuniti awal ketika itu kuat menentang asimilasi budaya luar.

Perubahan Dari Zaman Logam

Permulaan sejarah Bugis lebih kepada mitos dari sejarah lojik. Di dalam teks La Galigo, populasi awal terletak di persisiran pantai dan tebing sungai dan penempatan ini dihubungi dengan pengangkutan air. Penempatan di tanah tinggi pula didiami oleh orang Toraja.

Penempatan-penempatan ini bergantung kepada salah satu daripada tiga pemerintahan yaitu Wewang Nriwuk, Luwu' dan Tompoktikka. Walaubagaimanapun, pada abad ke 15, terdapat kemungkinan penempatan awal tersebar di seluruh Tana Ugi, malahan jauh ketengah hutan dimana tidak dapat dihubungi melalui pengangkutan air. Mengikut mitos, terdapat migrasi yang ingin mencari tanah baru untuk didiami. Implikasi penempatan ditengah-tengah hutan ini ialah perubahan fizikal hutan, dimana hutan-hutan ditebang dan proses diteruskan sehingga abad ke20.

Teknik Dan Perbedaan Ekonomi

Penebangan hutan ini mungkin seiring dengan pembuatan besi untuk membuat alat-alat tertentu seperti kapak. Malahan, pemerintah pertama (mengikut sejarah) kerajaan Bone memakai gelaran 'Panre Bessi' atau 'Tukang Besi'. Selain itu, terdapat juga hubungan yang cukup rapat diantara pemerintah Sidenreng dengan penduduk kampung Massepe, tempat penumpuan pembuatan peralatan besi oleh orang Bugis dan tempat suci dimana 'Panre Baka' ('Tukang Besi Pertama') turun dari Syurga/Langit. Meskipun sebagaian meyakini bahwa  'Panre Baka' berasal dari Toraja.

Satu lagi inovasi yang diperkenalkan yaitu penggunaan kuda. Walaupun tidak disebut di dalam teks La Galigo, menurut sumber Portugis, pada abad ke16, terdapat banyak penggunaan kuda di kawasan gunung. Hal ini mungkin diperkenalkan antara abad ke 13 dan abad ke 16. Maksud kuda di dalam Bahasa Bugis , ialah 'anyarang' (Makassar: jarang), cukup berbeda dengan Bahasa Melayu, malah diambil dari bahasa Jawa ( 'jaran' ). Perkataan ini mungkin digunakan pada abad ke14, ketika Jawa diperintah oleh Majapahit.

Pertambahan penduduk memberi kesan kepada teknik penanaman padi. Teknik potong dan bakar digantikan dengan teknik penanaman padi sawah. Teknik Penanaman padi sawah ini (plough) di dalam Bahasa Bugis ialah 'rakalla' berasal dari perkataan 'langala' yang digunakan hampir seluruh Asia Tenggara, contohnya Cam, 'langal', Khmer, angal dan Bahasa Melayu, tengala.
Teknik 'rakalla' ini digunakan di India dan sebahagian Asia Tenggara, Dimana sebahagian lagi wilayah Asia Tenggara diambil dari China. Ini sekaligus membuktikan adanya hubungan antara Sulawesi Selatan dengan bahagian barat Asia Tenggara selain Jawa.

Perubahan di dalam bidang ekonomi berhubungan erat  dengan pertambahan penduduk di tangah-tengah benua. Pada mulanya, sumber ekonomi mayoritas populasi Bugis ialah bertaman padi. Ketika bangsa terpelajar  mulai merambah sumber-sumber daya alam dari hutan, laut. Pada saat inilah mulai terjadi system barter dimana populasi bugis dapat menjual hasil panen padi mereka dan menukarnya dengan barang-barang mewah dari luar seperti keramik China, Sutera India, cermin dll.

Perubahan Sosio-Politik

Implikasi terakhir dari penyebaran etnik Bugis keseluruh Sulawesi Selatan ialah perubahan didalam politik. Kerajaan-kerajaan lama Bugis yaitu Luwu', Sidenreng, Soppeng dan Cina (kemudiannya menjadi Pammana) masih berkuasa tetapi mungkin terdapat pembaharuan didalam pemerintahan  ataupun pertukaran dinasti.

Kerajaan-kerajaan kecil bermunculan  di tempat tempat yang ( 'wanua' ) dan diperintah oleh seorang ketua yang digelari 'matoa' atau 'arung'. Kerajaan ini (tidak disebut didalam La Galigo) antara lain Bone, Wajo dan Goa yang kemudian muncul sebagai kerajaan-kerajaan utama.

Meskipun sebagian kerajaan yang disebut di dalam teks La Galigo seperti Wewang Nriwu' dan Tompoktikka 'hilang' di dalam catatan sejarah, dan memunculkan polemic bahwa sebenarnya kerajaan-kerajaan tersebut memang tidak pernah ada.

Perubahan Agama

Kesinambungan dari zaman logam berlanjut dalam bidang  keagamaan. Bissu (bomoh) kekal menjadi elemen penting di dalam hal-hal keagamaan sebelum kedatangan Islam. Perubahan di dalam bidang keagamaan adalah pembakaran mayat dan debu bagi orang-orang terpenting di simpan di dalam tempat penyimpanan debu (berbentuks seperti  labu) dan  tempat pembakaran mayat disebut Patunuang.

Menurut sumber Portugis, Makassar mengekalkan teknik penanaman mayat dan Toraja sampai saat ini masih menyimpan dan meletakkan mayat di gua-gua. Menurut sumber-sumber terdahulu, Mayat-mayat pemerintah pada masa awal di biarkan bersandar di tahtanya higga tinggal tulang belulang, dan mereka meyakini arwah mereka kembali ke surga. Sementara mayat bayi di tenggelamkan ke laut.

Kerajaan-Kerajaan Awal Bugis

Di akhir abad ke 15, Luwu', yang dianggap sebagai yang tertua dalam komunitas Bugis, mendominasi kebanyakkan kawasan di Tana Ugi termasuklah tebing Tasik Besar, sepanjang sungai Welennae, tanah pertanian di sebelah timur, sepanjang pesisir pantai yang menghadap Teluk Bone, Semenanjung Bira, Pulau Selayar dan Tanjung Bantaeng. 
 

Aksara Bugis

Situasi Politik Di Akhir Abad ke 15

Pada awal abad ke 15, Luwu' menguasai Sungai Cenrana yang menghubungkan  Tasik Besar. Lokasi Luwuk yang  terletak di muara sungai Cenrana, manakala di hulu sungai pula terdapat beberapa kerajaan kecil. Luwuk mencoba memperluas wilayah kekuasaannya ke bagian barat  sepanjang  Selat Makassar dan Sungai Cenrana melalui Tasik Besar, untuk mengawal perdagangan sumber-sumber asli di sebelah barat, mineral dari pergunungan Toraja dan sumber pertanian sepanjang Sungai Welennae.

Sementara  Sidenreng yang  terletak di bahagian barat Tasik Besar telah memilih untuk berlindung di bawah Soppeng. Pada masa yang sama, Sawitto', Alitta, Suppa', Bacukiki' dan Rappang, juga terletak di sebelah barat telah membentuk satu konfederasi yang dinamakan ' Aja'tappareng ' (tanah disebelah barat tasik) sekaligus menyebabkan Luwuk kehilangan  pengaruh di kawasan ini.

Sebagian besar wanua-wanua Bugis pada awalnya enggan berada dibawah pemerintahan Luwuk.
Di hulu Sungai Cenrana pula, kerajaan Wajo' sedang membangun dan mulai menyebarkan pengaruhnya untuk melindungi kawasan di sekelilingnya.

Pada masa pemerintahan “Arung Matoa” Wajo. Sekitar tahun 1490, Pemerintahan Luwu’ membuat sebuah perjanjian dengan Wajo', dan sekaligus meletakkan Luwu' dibawah pengaruh Wajo'. Pada tahun 1498 pula, penduduk Wajo' melantik Arung Matoa Puang Ri Ma'galatung, seorang pemerintah yang disegani oleh orang Bugis, dan berjaya menjadikan Wajo' sebagai salah satu kerajaan utama Bugis.

Penempatan Bugis yang disebut di dalam La Galigo kini terletak di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan yang membangun. Soppeng yang terletak di antara Sidenreng, Wajo' dan Bone.

Runtuhnya Kerajaan Luwuk

Pada masa antara 1500 dan 1530 kerajaan Luwuk mulai mengalami kemunduran. Ketika itu, Luwuk di perintah oleh Dewaraja, seorang pahlawan yang hebat. Didalam pertemuan diantara Dewaraja dan Arung Matoa Puang ri Ma'galatung pada tahun 1508, Dewaraja setuju untuk menyerahkan kawasan-kawasan di sepanjang Sungai Cenrana kepada Wajo' sebagai pertukaran Wajo' hendaklah membantu Luwuk menguasai Sidenreng dimana Sidenreng berjaya dikuasai oleh Luwuk dan Sidenrang terpaksa menyerahkan kepada Wajo' kawasan timur laut dan utara Tasik Besar.


Pada tahun 1509, Luwu' menyerang Bone untuk menaklukkan kerajaan Bone, namun  Bone sudah menjadi kerajaan yang kuat dan tentara Luwuk mengalami kekalahan. Malahan Dewaraja, walaupun berhasil  melarikan diri, namun dia hampir dibunuh jika saja bukan karena tetua kerajaan bone  yang memerintahkan tentaranya untuk tidak 'menyentuh' ketua musuh Bone.

Pada akhirnya  Payung Merah milik Luwuk yang menjadi simbol kekuataan bangsawan tertinggi  dimiliki Bone sekaligus mengakhiri mayoritas Luwuk di negeri-negeri Bugis. Meski demikian, ketuanan Luwu' masih disanjung tinggi dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan.  Ketika pengganti Dewaraja mangkat, Wajo' menyerang Luwu' dan meluaskan pengaruhnya di daerah-daerah Luwuk.

3 comments:

  1. ada informasinya tentang kerajaan tellu poccoe (bone soppeng wajo) menurut sejarah tellu poccoe ini adalah kerajaan besar di tanah ogi sebelum bergabung dgn kerajaan goa tallo

    ReplyDelete
  2. Maksudnya perjanjian "Tellu Poccoe" antara raja bone, soppeng, wajo??? Next time akan di tampilkan.

    ReplyDelete